Perkuat Integritas Akademik, Perpustakaan dan Arsip UGM Optimalkan Peran Turnitin Cegah Plagiarisme

Di tengah tantangan integritas akademik yang kian kompleks, terutama dengan maraknya penggunaan kecerdasan buatan generatif, Perpustakaan dan Arsip Universitas Gadjah Mada (UGM) mengambil langkah strategis dengan memperkuat peran pengelola dan instruktur Turnitin sebagai garda terdepan pencegahan plagiarisme. Upaya tersebut diwujudkan melalui Workshop Optimalisasi Turnitin sebagai Instrumen Pencegahan Plagiarisme yang digelar pada Kamis, 12 Februari 2026.

Workshop yang berlangsung secara daring melalui Google Meet ini diikuti oleh para pengelola dan instruktur Turnitin di lingkungan UGM. Kegiatan menghadirkan Muhammad David Lung, Manager Customer Onboarding Turnitin Indonesia (Training), sebagai narasumber, dengan Yulistiarini Kumaraningrum, S.PT., MM., Kepala Bidang Data dan Sistem Informasi Perpustakaan dan Arsip UGM, sebagai moderator.

Dalam paparannya, Muhammad David Lung menekankan bahwa Turnitin tidak semata berfungsi sebagai alat pendeteksi kemiripan teks, melainkan sebagai instrumen edukatif untuk membangun budaya akademik yang berintegritas. Ia menjelaskan secara komprehensif fitur Similarity Detection, Integrity Flags, hingga AI Writing Detection yang kini menjadi perhatian utama di dunia pendidikan tinggi.

Ia juga menggarisbawahi pentingnya kemampuan instruktur dalam menafsirkan Similarity Report, termasuk membedakan teks yang telah dikutip dan disitasi dengan benar, kesalahan teknis seperti kurangnya tanda kutip, hingga indikasi tidak adanya atribusi sama sekali. Menurutnya, pemahaman ini krusial agar Turnitin digunakan secara adil dan tidak merugikan mahasiswa.

Seiring berkembangnya teknologi AI generatif, David turut menyoroti penggunaan AI Writing Report Turnitin. Ia mendorong dosen dan pengelola untuk menetapkan ekspektasi yang jelas terkait pemanfaatan AI dalam penulisan akademik. “Institusi perlu menjelaskan kapan AI boleh digunakan, kapan tidak, dan bagaimana cara mengakui penggunaannya secara etis,” ujarnya.

Lebih lanjut, workshop ini merupakan bagian dari komitmen berkelanjutan dalam menjaga mutu akademik dan mendukung sivitas akademika menghadapi dinamika baru dunia pendidikan. Moderator sekaligus Kepala Bidang Data dan Sistem Informasi Perpustakaan dan Arsip UGM, Yulistiarini Kumaraningrum, menegaskan bahwa peran pengelola Turnitin sangat strategis. “Pengelola dan instruktur Turnitin bukan sekadar operator sistem, tetapi mitra akademik yang membantu dosen dan mahasiswa memahami praktik penulisan ilmiah yang jujur, bertanggung jawab, dan sesuai etika,” tegasnya.

Kegiatan ini selaras dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), khususnya SDG 4 (Pendidikan Berkualitas) melalui penguatan sistem penjaminan mutu akademik, SDG 16 (Perdamaian, Keadilan, dan Kelembagaan yang Tangguh) dengan mendorong tata kelola akademik yang berintegritas, serta SDG 17 (Kemitraan untuk Mencapai Tujuan) melalui kolaborasi strategis antara institusi pendidikan dan penyedia teknologi pendidikan global.

Melalui workshop ini, dapat tercipta pemahaman yang utuh bahwa integritas akademik bukan hanya soal angka similarity atau skor AI, melainkan proses pendidikan yang mengedepankan dialog, keadilan, dan tanggung jawab ilmiah. Sebuah pondasi penting bagi lahirnya karya akademik yang tidak hanya orisinal, tetapi juga bermartabat.

Kontributor: Wasilatul Baroroh