AI bisa mempercepat riset. Tapi apakah kita boleh sepenuhnya mempercayainya? Pertanyaan krusial ini mengemuka di tengah maraknya penggunaan kecerdasan buatan dalam lanskap akademik, yang kini menjadi pisau bermata dua bagi kredibilitas dunia ilmiah.
Menjawab tantangan tersebut, Perpustakaan dan Arsip Universitas Gadjah Mada (UGM) menggelar Workshop Research Smarter Series #3 bertajuk “Embracing the Future of Research Discovery with Scopus AI” secara daring pada Rabu (9/9). Agenda ini dapat membekali dosen, peneliti, serta mahasiswa UGM agar mampu menavigasi teknologi Generative AI secara etis dan bertanggung jawab.
Inisiatif ini sekaligus menjadi wujud nyata komitmen Perpustakaan dan Arsip UGM dalam mendukung pilar Sustainable Development Goals (SDGs). Langkah ini secara langsung berkontribusi pada SDG 4 (Pendidikan Berkualitas) melalui peningkatan literasi digital dan integritas akademik, SDG 9 (Industri, Inovasi, dan Infrastruktur) dengan memperkuat ekosistem riset berbasis teknologi terpercaya, SDG 16 (Perdamaian, Keadilan, dan Kelembagaan yang Tangguh) guna memperkokoh transparansi dan akuntabilitas ilmiah dari ancaman kecurangan akademik seperti pemalsuan data dan sitasi fiktif, serta SDG 17 (Kemitraan untuk Mencapai Tujuan) melalui kolaborasi strategis antara institusi pendidikan UGM dan penyedia data ilmiah global Elsevier dalam memajukan kualitas riset nasional.
Kepala Bidang Perpustakaan, Perpustakaan dan Arsip UGM, Wahyu Supriyanto, S.E., M.Si., menegaskan pentingnya keterbukaan akademisi terhadap kemajuan teknologi tanpa mengabaikan koridor etika.
“Zaman sudah semakin canggih, sehingga sangat penting bagi para peneliti untuk memanfaatkan kecerdasan buatan (AI) secara bijak dalam menunjang proses penelitian,” ujar Wahyu saat membuka acara.
Memasuki sesi inti, Pradipta Faikar Hakim, Customer Success Manager Elsevier South East Asia – Indonesia, membeberkan fakta mengejutkan terkait risiko penggunaan AI publik (consumer-grade) dalam penulisan karya ilmiah. Berdasarkan data riset, meskipun 58% peneliti telah menggunakan AI, hanya 22% yang benar-benar mempercayai hasilnya. Kekhawatiran ini disebabkan penggunaan AI publik berisiko menghasilkan hingga 19,9% sitasi fiktif (fabricated citations) dan lebih dari 45% kesalahan pada sitasi.
Pradipta juga menepis anggapan keliru mengenai status AI dalam publikasi ilmiah. Sesuai kebijakan Elsevier dan standar integritas akademik global, AI tidak dapat dijadikan sebagai penulis pendamping.
“AI bukan menggantikan posisi penulis, melainkan alat penunjang (supporting tool) untuk mensintesis literatur, mencari ide, atau merapikan tata bahasa. Kepenulisan atau authorship membawa tanggung jawab moral dan legal yang hanya bisa diampu oleh manusia,” tegas Pradipta.
Untuk mengatasi ancaman sitasi palsu dan information overload, Elsevier memperkenalkan Scopus AI. Berbeda dari AI umum, platform ini bekerja secara eksklusif menggunakan basis data terkurasi milik Scopus yang dilindungi sistem keamanan data ketat. Berbagai fitur canggih seperti Summary & Expanded Summary (lengkap dengan confidence level), Concept Map, Foundational Documents, hingga Topic Experts dihadirkan untuk mempercepat pemetaan riset tanpa mengorbankan akurasi.
Meski demikian, kecanggihan teknologi tetap membutuhkan kendali manusia sebagai pemegang komando tertinggi.
“Tugas peneliti adalah mengevaluasi kembali apakah artikel yang dihasilkan Scopus AI benar-benar sesuai dengan topik penelitian. Karena yang paling tahu konteks dan arah penelitian adalah kita sendiri sebagai peneliti,” pungkas Pradipta.
Kehadiran AI telah mengubah cara dunia menemukan pengetahuan secara permanen. Kini, tantangan terbesar bagi akademisi bukan lagi tentang seberapa cepat teknologi dapat menyajikan data, melainkan seberapa bijak peneliti menjaga nilai kejujuran dan integritas di balik setiap karya yang dilahirkan.
Kontributor: Wasilatul Baroroh