Bagaimana jika ribuan skripsi, tesis, dan disertasi tentang manuskrip dari berbagai perguruan tinggi bisa ditemukan dalam satu tempat? Gagasan itulah yang sedang dijajaki Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) bersama Perpustakaan dan Arsip Universitas Gadjah Mada (UGM) melalui diskusi mengenai peluang integrasi repositori perguruan tinggi.
Diskusi yang berlangsung pada Kamis (2/7) di Ruang Sidang Perpustakaan dan Arsip UGM ini mempertemukan perwakilan BRIN, Perpustakaan dan Arsip UGM, serta akademisi Program Studi Bahasa, Sastra, dan Budaya Jawa UGM. Fokus utamanya adalah membangun ekosistem data penelitian manuskrip yang lebih terhubung, sehingga hasil-hasil penelitian tidak lagi tersebar di berbagai repositori institusi.
Alan Darmawan dari BRIN menjelaskan bahwa lembaganya tengah mengembangkan sebuah database nasional yang menghimpun hasil kajian manuskrip dari berbagai universitas di Indonesia.
“Kami akan membangun database yang berisi hasil-hasil kajian dari berbagai universitas, khususnya skripsi, tesis, dan disertasi terkait kajian naskah atau manuskrip. Harapannya, database ini dapat menjadi rujukan bersama bagi para peneliti sehingga hasil-hasil penelitian yang sudah ada lebih mudah diakses, dimanfaatkan, dan dikembangkan menjadi penelitian lanjutan,” jelas Alan.
Jika terwujud, database ini akan menjadi pintu masuk bagi peneliti, dosen, hingga mahasiswa untuk melacak penelitian yang sudah pernah dilakukan. Tak hanya menghemat waktu, keberadaannya juga membantu menemukan peluang riset yang masih terbuka.
Hal tersebut diamini oleh Zakariya Pamuji Aminullah, S.S., M.A., Dosen Program Studi Bahasa, Sastra, dan Budaya Jawa UGM. Menurutnya, salah satu tantangan terbesar mahasiswa, khususnya di bidang Sastra Jawa, adalah menentukan celah penelitian yang benar-benar baru.
“Selama ini tantangan mahasiswa Sastra Jawa adalah mencari research gap. Mereka perlu mengetahui penelitian apa saja yang sudah pernah dilakukan agar dapat menemukan kebaruan dalam topik yang akan diteliti. Jika tersedia database yang menghimpun kajian manuskrip dari berbagai perguruan tinggi, proses tersebut tentu akan jauh lebih mudah,” ujarnya.
Dari sisi pengelolaan repositori, Perpustakaan dan Arsip UGM juga membagikan pengalaman praktis yang perlu menjadi perhatian. Dewi Nurhastuti, S.Sos., Staf Data and Digital Resources Perpustakaan dan Arsip UGM, menyoroti pentingnya pengelolaan metadata agar integrasi repositori berjalan lebih optimal.

“Tantangannya adalah koleksi Electronic Theses and Dissertations (ETD) belum memiliki nomor panggil. Hal ini menjadi salah satu aspek yang perlu diperhatikan apabila nantinya repositori dari berbagai perguruan tinggi akan diintegrasikan,” ungkap Dewi. Menurutnya, penguatan metadata akan membantu meningkatkan efektivitas proses pencarian dan temu kembali informasi.
Menanggapi inisiatif tersebut, Kepala Bidang Perpustakaan Perpustakaan dan Arsip UGM, Wahyu Supriyanto, S.E., M.Si., menyambut baik peluang kolaborasi dengan BRIN.
“Programnya bagus dan memiliki potensi besar. Kami menyambut baik kerja sama ini, dan langkah selanjutnya akan dibahas lebih lanjut melalui penyusunan Perjanjian Kerja Sama (PKS),” tutur Wahyu.
Kolaborasi ini lebih dari sekadar membangun sebuah database. Inisiatif ini menjadi langkah untuk memperkuat akses terhadap pengetahuan, membuka peluang lahirnya riset-riset baru, sekaligus mempererat sinergi antarperguruan tinggi dan lembaga riset di Indonesia.
Upaya tersebut sejalan dengan komitmen mendukung Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 4: Pendidikan Berkualitas melalui perluasan akses terhadap sumber pengetahuan, SDG 9: Industri, Inovasi, dan Infrastruktur melalui penguatan infrastruktur informasi berbasis inovasi, serta SDG 17: Kemitraan untuk Mencapai Tujuan melalui kolaborasi lintas institusi dalam memajukan riset dan pelestarian manuskrip Indonesia.
Kontributor: Wasilatul Baroroh