Dorong Budaya Menulis lewat ArchiTalk & LibSpeak Special Event

Sebuah buku tidak lahir dari ruang sunyi, melainkan dari perjumpaan gagasan lintas profesi yang terus diasah melalui dialog dan refleksi. Semangat inilah yang diusung Perpustakaan dan Arsip Universitas Gadjah Mada (UGM) melalui ArchiTalk & LibSpeak Special Event, sebuah forum diskusi daring yang kali ini mengulas proses kreatif di balik lahirnya buku “Masa Depan Pengetahuan: Transformasi Perpustakaan dan Arsip dalam Ekosistem Pengetahuan Baru”, Rabu (28/1/2026).

Kegiatan yang digelar melalui Zoom Meeting ini menghadirkan Herman Setyawan dan Wasilatul Baroroh sebagai narasumber, dengan Delta Ira Anggreanie sebagai host. Forum ini terbuka bagi pustakawan, arsiparis, serta civitas academica UGM yang tertarik pada proses kolaborasi dalam menulis sebuah karya.

Kepala Perpustakaan dan Arsip UGM, Arif Surachman, SIP., MBA., menyampaikan harapannya agar kegiatan ini menjadi pemantik lahirnya karya-karya baru khususnya dari lingkungan profesi perpustakaan dan arsip. “Kami berharap ArchiTalk & LibSpeak Special Event ini dapat memantik semangat rekan-rekan lain untuk berani menulis dan melahirkan karya. Perpustakaan dan arsip perlu terus dihidupkan melalui gagasan yang dituliskan dan dibagikan,” ujarnya.

Diskusi ini menyoroti lahirnya buku yang berangkat dari kesadaran akan perpustakaan dan arsip sebagai university heritage yaitu penjaga ingatan institusi yang merekam perjalanan gagasan, kebijakan, dan karya intelektual universitas lintas generasi. Dari kesadaran tersebut, buku Transformasi Perpustakaan dan Arsip disusun sebagai upaya merawat memori institusi sekaligus menjawab tantangan perubahan. “Buku ini kami susun sebagai catatan yang terstruktur dari praktik sehari-hari, sekaligus ruang dialog lintas profesi agar pustakawan, arsiparis, dan pihak lain bisa saling belajar dan saling memahami,” ujar Herman Setyawan.

Kolaborasi antara arsiparis dan pustakawan dalam buku ini tidak dibangun melalui kontrak formal, melainkan dari diskusi tentang pekerjaan sehari-hari. Wasilatul Baroroh menilai perbedaan sudut pandang justru menjadi kekuatan utama kolaborasi tersebut. “Arsiparis melihat informasi dari perspektif sejarah dan memori jangka panjang, sementara pustakawan berhadapan langsung dengan kebutuhan pengguna yang beragam dan dinamis. Perbedaan itu akhirnya saling melengkapi dan memperkaya cara kami mengelola pengetahuan,” ungkapnya.

Proses penulisan buku dilakukan secara sistematis, mulai dari penyusunan kerangka, penelusuran referensi akademik, hingga penyuntingan naskah. Pemanfaatan teknologi dan kecerdasan buatan digunakan sebagai alat bantu untuk memetakan ide dan memperkuat referensi, tanpa menggeser peran manusia sebagai aktor utama dalam berpikir dan mengambil keputusan.

Penyelenggaraan ArchiTalk & LibSpeak Special Event sejalan dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), khususnya SDG 4 (Pendidikan Berkualitas) melalui penguatan literasi dan pembelajaran sepanjang hayat, SDG 9 (Industri, Inovasi, dan Infrastruktur) melalui pemanfaatan teknologi secara bertanggung jawab, serta SDG 17 (Kemitraan untuk Mencapai Tujuan) lewat kolaborasi lintas profesi dalam pengelolaan pengetahuan.

Menutup diskusi, Herman Setyawan menekankan pentingnya mengaktualisasikan pengetahuan yang diperoleh dari berbagai forum pengembangan diri. “Ilmu yang didapatkan dari seminar atau workshop akan jauh lebih bermakna jika dipraktikkan. Dari situlah karya bisa lahir dan memberi kontribusi nyata bagi profesi,” ujarnya.

Sementara itu, Wasilatul Baroroh mengingatkan bahwa tantangan menulis di era saat ini justru diiringi dengan semakin terbukanya akses terhadap teknologi pendukung. “Saat ini banyak teknologi yang bisa kita maksimalkan untuk menulis, seperti Scopus AI dan SciSpace. Tinggal bagaimana kita memanfaatkannya secara cerdas dan bertanggung jawab untuk menghasilkan karya,” tuturnya.

Melalui kegiatan ini, Perpustakaan dan Arsip UGM menegaskan perannya sebagai ruang dialog intelektual yang tidak hanya mendorong pertukaran gagasan, tetapi juga mengajak komunitas perpustakaan dan arsip untuk bergerak lebih jauh, mempraktikkan pengetahuan, memanfaatkan teknologi, dan melahirkan karya yang relevan bagi masa depan.

Kontributor: Wasilatul Baroroh