Membangun Warga Digital yang Bijak, Perpustakaan dan Arsip UGM Bahas Etika Bermedia Sosial

Media sosial telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari, tidak hanya sebagai sarana berkomunikasi dan memperoleh informasi, tetapi juga sebagai ruang untuk membangun relasi, personal branding, hingga menunjang aktivitas pendidikan dan pekerjaan. Kondisi tersebut membuat pemahaman mengenai etika dan tanggung jawab dalam bermedia sosial menjadi semakin penting. Hal tersebut menjadi fokus Talkshow dan Bedah Buku bertema “Etika Bermedia Sosial di Era Digital” yang merupakan bagian dari rangkaian acara “Deepublish Store Goes to UGM” yang diselenggarakan Perpustakaan dan Arsip Universitas Gadjah Mada (UGM) berkolaborasi dengan Deepublish Store Rabu (26/8) secara luring.

Kepala Perpustakaan dan Arsip Universitas Gadjah Mada (UGM), Arif Surrachman, menyampaikan bahwa kegiatan bedah buku tersebut merupakan salah satu bentuk kolaborasi Perpustakaan dan Arsip UGM dengan mitra, dalam hal ini Deepublish, untuk mendukung sivitas akademika UGM, khususnya dalam mendorong kegiatan publikasi. Menurutnya, kolaborasi tersebut menjadi bagian dari komitmen perpustakaan untuk terus memberikan dukungan kepada sivitas akademika dalam mengembangkan dan mempublikasikan karya ilmiah.

Dalam sambutannya, Arif juga menyoroti pentingnya tema “Etika Komunikasi Digital: Antara Kebebasan Berekspresi dan Tanggung Jawab Sosial”. Ia menilai isu tersebut relevan bagi masyarakat, khususnya generasi muda yang semakin aktif menggunakan media sosial. Menurut Arif, kemudahan dalam menyampaikan informasi melalui media sosial perlu diimbangi dengan kehati-hatian dan tanggung jawab karena unggahan yang telah tersebar dapat dengan mudah menjadi viral dan sulit ditarik kembali.

Oleh karena itu, kegiatan tersebut menjadi salah satu upaya Perpustakaan dan Arsip UGM untuk meningkatkan kesadaran sivitas akademika dalam menggunakan media digital secara bijak, bertanggung jawab, dan beretika. Perpustakaan dan Arsip UGM terus berkomitmen untuk mendukung sivitas akademika agar mampu menghadapi perkembangan komunikasi digital secara kritis serta memahami dampak dari setiap informasi yang disampaikan di ruang digital.

Sambutan juga datang dari Bapak Lukman, S.T, selaku Manager Deepublish Store. Dalam sambutannya, Lukman membagikan pengalamannya dalam menggunakan media sosial yang sempat membuatnya merasa “dikuasai” hingga memutuskan untuk menghapus media sosial pada 2018. Setelah mengalihkan waktunya pada aktivitas yang lebih produktif, seperti mengelola penjualan di marketplace, ia kemudian kembali menggunakan media sosial bukan sekadar untuk berselancar, tetapi sebagai sarana mendukung produktivitas dan usaha. Ia menekankan pentingnya mengubah pola penggunaan media sosial agar tidak dikuasai oleh teknologi, melainkan mampu memanfaatkannya secara bijak untuk kebutuhan yang produktif. Melalui kegiatan talkshow dan bedah buku tersebut, ia berharap peserta dapat memperoleh wawasan baru dan semakin bijak dalam memanfaatkan media sosial. 

Kegiatan yang dimoderatori oleh Syahrindra Restu Ramadhani, S.H., Ketua Umum Dimas Diajeng DIY 2025-2027, menghadirkan Dr. lva Ariani, S.S., M.Hum.  , Dosen Fakultas Filsafat UGM sekaligus Penulis buku “Etika dan Medsos: Menimbang Kewajiban, Manfaat, dan Kebajikan di Ruang Digital” dan Sigit Bayu Cahyanto, S.Tr.T., CEE®, CSDA®,  LPDP Awardee – Master of Information Technology dan Mahasiswa Berprestasi UGM sebagai narasumber.

Dalam pemaparannya, Iva Ariani menjelaskan bahwa media sosial saat ini tidak lagi dapat dipandang sekadar sebagai alat teknologi, tetapi telah menjadi bagian dari ruang kehidupan baru. Menurut Iva, berbagai aktivitas masyarakat, mulai dari mencari informasi, membangun relasi, mencari pekerjaan, hingga memperoleh penghasilan, kini banyak dilakukan melalui media sosial. Kondisi tersebut membuat masyarakat perlu mengubah cara pandang dalam menggunakan media sosial, termasuk memahami bahwa setiap aktivitas yang dilakukan di ruang digital dapat memberikan dampak terhadap kehidupan nyata.

Iva menekankan bahwa etika diperlukan bukan untuk membatasi kebebasan berekspresi, melainkan untuk memastikan kebebasan tersebut tetap disertai tanggung jawab. Menurutnya, ruang digital memiliki jangkauan yang jauh lebih luas dibandingkan interaksi dalam kehidupan sehari-hari sehingga sebuah unggahan dapat dilihat oleh banyak orang dan berpotensi memberikan dampak hingga masa depan. Ia juga mengingatkan bahwa pengguna media sosial perlu lebih selektif dalam menyikapi informasi yang viral karena tidak semua hal yang menjadi perhatian publik merupakan sesuatu yang baik untuk disebarluaskan. “Sekarang harus fokus bukan tentang bagaimana posting suatu hal yang baik dan berguna, namun bagaimana menjadi manusia yang baik di ruang digital ini,” jelas Iva.

Sementara itu, Sigit Bayu melihat media sosial sebagai ruang yang memberikan kebebasan berekspresi sekaligus menuntut tanggung jawab dari penggunanya. Ia menjelaskan bahwa media sosial dapat menjadi sarana untuk membangun branding, memperluas relasi, memperoleh informasi pendidikan dan pekerjaan, serta menunjukkan aktivitas dan karakter seseorang. Menurut Sigit, karakter yang ditampilkan di media sosial pada dasarnya beririsan dengan karakter seseorang di kehidupan nyata, sehingga pengguna perlu berhati-hati dalam setiap unggahan, komentar, maupun aktivitas digital lainnya.

Sigit juga mengingatkan pentingnya memeriksa kredibilitas informasi sebelum membagikan atau memberikan komentar terhadap suatu isu, terutama ketika informasi tersebut sedang viral. Pengguna perlu memahami konteks, mempertimbangkan dampak, serta memperhatikan etika agar tidak menyinggung pihak lain, mencemarkan nama baik, atau menggiring opini secara tidak bertanggung jawab. Ia juga menyoroti pentingnya memahami cara kerja algoritma media sosial karena konten yang sering dicari, dilihat, maupun diunggah pengguna akan memengaruhi konten yang muncul di linimasa. “Kita perlu bertanggung jawab atas apa yang kita upload di sosial media dan pikirkan esensinya, apakah bermanfaat atau tidak,” ungkap Sigit.

Lebih lanjut, Iva mengingatkan bahwa algoritma dapat membentuk ruang informasi yang membuat seseorang terus-menerus menerima konten yang sesuai dengan pandangan dan kebiasaannya. Kondisi tersebut berpotensi membuat pengguna berada dalam lingkaran informasi yang hanya membenarkan pandangannya sendiri. Oleh karena itu, kemampuan untuk bersikap kritis dan memahami konteks menjadi penting agar pengguna tidak mudah terbawa arus informasi maupun fenomena viral di media sosial.

Melalui diskusi tersebut, kedua narasumber menekankan bahwa penggunaan media sosial yang bijak tidak hanya berkaitan dengan kemampuan membuat atau membagikan konten, tetapi juga dengan pembentukan karakter dan tanggung jawab sebagai warga digital. Media sosial dapat dimanfaatkan untuk berbagai kebutuhan yang produktif, namun kebebasan berekspresi perlu selalu diimbangi dengan kesadaran terhadap dampak, etika, dan tanggung jawab sosial.

Upaya tersebut sejalan dengan Sustainable Development Goals (SDGs) 4: Pendidikan Berkualitas, melalui peningkatan literasi dan pemahaman sivitas akademika mengenai etika serta tanggung jawab dalam berkomunikasi di ruang digital. Kegiatan ini juga mendukung SDGs 9: Industri, Inovasi, dan Infrastruktur, khususnya dalam mendorong pemanfaatan teknologi dan media digital secara bijak, produktif, dan bertanggung jawab. Selain itu, kegiatan ini berkaitan dengan SDGs 17: Kemitraan untuk Mencapai Tujuan melalui kolaborasi Perpustakaan dan Arsip UGM dengan mitra dalam menghadirkan ruang edukasi dan diskusi mengenai tantangan komunikasi di era digital.

Semakin meningkat kesadaran sivitas akademika dalam menggunakan media sosial secara etis, semakin besar pula peluang terciptanya ruang digital yang sehat, kritis, dan bertanggung jawab. Bagi Perpustakaan dan Arsip UGM, menghadirkan kegiatan edukatif mengenai literasi dan etika digital menjadi bagian dari upaya mendukung sivitas akademika agar tidak hanya mampu memanfaatkan teknologi, tetapi juga memiliki kesadaran terhadap dampak setiap informasi dan interaksi yang dilakukan di ruang digital.

Kontributor: Gloria Ayuningtyas