Memahami Jejak Riset Lebih Jauh, Perpustakaan dan Arsip UGM Kenalkan Strategi Manfaatkan Scopus 

Publikasi ilmiah tidak berhenti ketika sebuah artikel berhasil diterbitkan. Seberapa jauh penelitian dibaca, dikutip, dan memberi pengaruh di lingkungan akademik menjadi bagian penting yang perlu dipahami peneliti. Karena itu, kemampuan mengukur dan memantau research impact menjadi semakin penting dalam pengembangan ekosistem riset. Hal tersebut menjadi fokus Workshop Research Smarter Series #2: Measure, Track, and Elevate Your Research Impact with Scopus yang diselenggarakan Perpustakaan dan Arsip Universitas Gadjah Mada (UGM), Rabu (19/8) secara daring.

Dalam sambutannya, Kepala Perpustakaan dan Arsip UGM, Arif Surachman, SIP., MBA., mengatakan Perpustakaan dan Arsip UGM menyediakan akses terhadap berbagai database ilmiah untuk mendukung kebutuhan penelitian dan pembelajaran civitas academica. Namun, penyediaan akses tersebut juga disertai evaluasi terhadap tingkat pemanfaatannya.

“Perpustakaan dan Arsip UGM melanggan berbagai macam database untuk mendukung kegiatan akademik dan penelitian, salah satunya adalah Scopus. Tetapi dalam pelaksanaannya, kami juga melakukan evaluasi. Salah satu yang kami lihat adalah bagaimana tingkat pemanfaatan database tersebut oleh civitas academica, karena hal itu menjadi pertimbangan apakah langganan akan dilanjutkan atau tidak,” ujar Arif.

Evaluasi tersebut menjadi bagian dari upaya Perpustakaan dan Arsip UGM memastikan sumber daya yang dialokasikan dalam penyediaan sumber informasi ilmiah dapat dimanfaatkan secara optimal. Karena itu, peningkatan pemahaman dan penggunaan database oleh civitas academica menjadi bagian penting dalam menjaga keberlanjutan layanan penyediaan sumber informasi.

Kegiatan yang dimoderatori oleh Wasilatul Baroroh, Staf Perpustakaan dan Arsip UGM, menghadirkan Pradipta Faikar Hakim, Customer Success Manager Elsevier South East Asia–Indonesia, sebagai narasumber.

Dalam pemaparannya, Pradipta menjelaskan berbagai fitur yang tersedia di Scopus dan bagaimana fitur tersebut dapat dimanfaatkan untuk mendukung aktivitas penelitian. Ia menekankan bahwa Scopus tidak hanya dapat digunakan untuk mencari artikel ilmiah, tetapi juga memungkinkan pengguna menelusuri informasi mengenai penulis (author), organisasi atau institusi, serta jurnal.

Menurut Pradipta, pemanfaatan berbagai fitur tersebut memungkinkan peneliti melihat informasi penelitian dari berbagai sisi, tidak hanya berdasarkan artikel yang telah dipublikasikan. “Di Scopus kita tidak hanya bisa mencari artikel. Kita juga bisa mencari author, organisasi, dan jurnal. Jadi, informasi yang tersedia di Scopus bisa dimanfaatkan untuk membantu kita memahami lebih jauh mengenai publikasi dan perkembangan penelitian,” jelas Pradipta.

Beragam fitur tersebut dapat membantu peneliti memperoleh gambaran yang lebih luas mengenai ekosistem publikasi ilmiah. Peneliti dapat menelusuri rekam jejak publikasi seorang penulis, melihat keterkaitan penelitian dengan organisasi tertentu, hingga mengeksplorasi jurnal yang relevan dengan bidang kajian.

Selain memperkenalkan fitur-fitur Scopus, Pradipta juga menjelaskan pemanfaatan informasi publikasi dan sitasi untuk mengukur, memantau, dan meningkatkan dampak penelitian. Informasi tersebut dapat menjadi salah satu bahan bagi peneliti untuk mengevaluasi perkembangan riset sekaligus menyusun strategi publikasi berikutnya.

Materi workshop juga menyentuh aspek penting dalam perjalanan publikasi ilmiah, yakni etika publikasi dan jurnal predator (predatory journals). Peserta diajak lebih cermat dalam memilih jurnal sebagai tempat mempublikasikan hasil penelitian serta memahami risiko yang dapat muncul apabila publikasi dilakukan pada jurnal yang tidak memenuhi standar dan praktik akademik yang baik.

Workshop ini tidak sekadar menjadi agenda pengenalan database. Kegiatan tersebut merupakan bagian dari upaya meningkatkan literasi informasi ilmiah dan kemampuan civitas academica dalam memanfaatkan sumber daya penelitian yang telah disediakan.

Upaya tersebut sejalan dengan Sustainable Development Goals (SDGs) 4: Pendidikan Berkualitas, terutama dalam mendukung peningkatan kapasitas pengetahuan dan kualitas pembelajaran. Kegiatan ini juga berkaitan dengan SDGs 9: Industri, Inovasi, dan Infrastruktur, melalui penguatan ekosistem penelitian, inovasi, serta pemanfaatan infrastruktur informasi ilmiah. Selain itu, kegiatan ini mendukung SDGs 17: Kemitraan untuk Mencapai Tujuan, melalui penguatan kolaborasi dan jejaring antara perguruan tinggi dan pengelola sumber informasi ilmiah.

Semakin optimal database ilmiah dimanfaatkan, semakin besar pula peluang informasi dan hasil penelitian diterjemahkan menjadi pengetahuan yang berdampak. Bagi Perpustakaan dan Arsip UGM, memastikan akses terhadap sumber informasi ilmiah benar-benar digunakan secara optimal menjadi bagian penting dari upaya membangun ekosistem riset yang berkualitas dan berkelanjutan.

Kontributor: Wasilatul Baroroh