Penelitian sudah selesai, data sudah terkumpul, dan manuskrip sudah ditulis. Namun, satu pertanyaan masih menunggu jawaban: apa yang membuat sebuah manuskrip layak diterima jurnal internasional? Jawabannya tidak berhenti pada kualitas hasil penelitian. Cara membangun cerita ilmiah, menyajikan bukti, memilih jurnal, hingga merespons komentar reviewer turut menentukan perjalanan sebuah manuskrip menuju publikasi.
Hal tersebut menjadi salah satu pengetahuan yang dibagikan Dr. Lin Wang, Country Manager for China at AIP Publishing, dalam Workshop “From Manuscript to Publication: A Guide to Peer Review and Journal Submission” yang diselenggarakan Perpustakaan dan Arsip Universitas Gadjah Mada (UGM), Rabu (26/8). Kegiatan ini membekali civitas academica dengan strategi praktis untuk membawa penelitian dari tahap manuskrip hingga proses publikasi jurnal internasional.
Pemahaman mengenai publikasi ilmiah merupakan bagian dari dukungan terhadap kegiatan penelitian civitas academica. Kepala Perpustakaan dan Arsip UGM, Arif Surachman, SIP., MBA., menyampaikan bahwa perpustakaan memiliki tanggung jawab untuk memberikan informasi dan pengetahuan yang dapat membantu sivitas menghasilkan publikasi bermutu.
“Ini adalah bagian dari tanggung jawab kami di perpustakaan untuk memberikan informasi dan pengetahuan terkait dengan bagaimana publikasi dilakukan dengan bekerja sama dengan para pengelola database jurnal yang sudah dilanggan oleh Universitas Gadjah Mada,” ujar Arif.
Menurut Lin Wang, manuskrip yang baik harus memiliki alur cerita ilmiah yang jelas. Penulis perlu mampu menjawab mengapa research question yang diangkat penting, persoalan apa yang hendak dijawab, research gap yang ingin diisi, metode yang digunakan, temuan yang diperoleh, serta bagaimana temuan tersebut memberikan kontribusi terhadap bidang keilmuan.
“A good manuscript is a good story,” tegas Lin Wang.
Cerita tersebut dapat dibangun secara sistematis menggunakan kerangka IMRD (Introduction, Methods, Results, Discussion). Struktur ini membantu penulis memastikan bahwa persoalan penelitian, metode, hasil, dan pembahasan saling terhubung secara logis.
Namun, cerita yang baik tetap membutuhkan bukti yang kuat. Dalam penulisan ilmiah, setiap klaim harus didukung data yang memadai. Lin Wang mengingatkan penulis untuk menggunakan bahasa yang akurat dan spesifik, menghindari pernyataan yang samar maupun klaim yang berlebihan. Data juga perlu ditampilkan secara efektif, misalnya melalui tabel atau grafik ketika informasi yang kompleks akan lebih mudah dipahami secara visual.
Prinsip tersebut sejalan dengan dua karakter utama penulisan akademik yang ditekankan Lin Wang, yakni brief dan accurate. Ringkas berarti fokus pada informasi dan hasil yang penting tanpa membebani pembaca dengan detail yang tidak diperlukan. Akurat berarti menyampaikan fakta secara tepat, menggunakan sitasi yang jelas, serta memastikan setiap pernyataan memiliki dasar yang dapat dipertanggungjawabkan.
Perhatian yang sama perlu diberikan pada judul, kata kunci, dan abstrak. Judul harus spesifik dan merepresentasikan bidang penelitian, sedangkan kata kunci perlu dipilih secara strategis agar penelitian lebih mudah ditemukan. Salah satu cara yang dapat dilakukan adalah menguji kata kunci melalui mesin pencari publikasi dan melihat istilah yang paling relevan dengan topik penelitian.
Abstrak juga perlu disusun secara strategis untuk menyampaikan inti penelitian secara efektif. Ketika melakukan submission, penulis dapat melengkapinya dengan cover letter yang menjelaskan secara singkat isi, keunikan, dan kontribusi penelitian.
“Need to communicate what become the novelty and why it’s worth it,” jelas Lin Wang.
Setelah manuskrip siap, persoalan berikutnya adalah ke mana penelitian tersebut akan dikirimkan. Memilih jurnal tidak cukup berdasarkan reputasi. Penulis perlu memeriksa ruang lingkup jurnal, persyaratan manuskrip, serta kesesuaian topik penelitian. Ketidaksesuaian dengan scope jurnal menjadi salah satu alasan manuskrip dapat ditolak.
Jika manuskrip lolos tahap awal, proses berlanjut kepada handling editor dan external reviewers. Reviewer kemudian memberikan penilaian yang dapat menghasilkan keputusan diterima, ditolak, atau memerlukan revisi.
Pada tahap revisi, penulis perlu memahami perbedaan antara minor revision dan major revision. Minor revision dapat mencakup klarifikasi argumentasi atau pembaruan gambar, sedangkan major revision dapat membutuhkan analisis tambahan atau eksperimen baru.
Komentar reviewer juga perlu dijawab secara sistematis. Lin Wang menyarankan penulis memberikan respons point by point, menunjukkan perubahan yang telah dilakukan, serta memberikan penjelasan berbasis data apabila terdapat komentar yang tidak dapat diterapkan.
“Not all the revision needs to be revised accordingly. Just convince with data and explanation,” ungkapnya.
Lalu, bagaimana jika manuskrip ditolak?
Menurut Lin Wang, penolakan tidak harus menjadi titik akhir. Komentar reviewer dapat digunakan untuk mengevaluasi kembali kualitas manuskrip. Jika penelitian tidak sesuai dengan jurnal yang dituju, penulis dapat mempertimbangkan jurnal lain yang lebih sesuai. Penulis juga dapat mencari kolaborator dengan bidang penelitian serupa atau mengajukan appeal apabila memiliki bukti dan argumentasi yang kuat untuk mempertanyakan keputusan tersebut.
“Consider transfer your manuscript to another journal, because maybe it’s suitable more there,” sarannya.
Pengetahuan mengenai proses publikasi tersebut memperluas makna dukungan perpustakaan terhadap penelitian. Akses terhadap jurnal dan database ilmiah perlu berjalan beriringan dengan kemampuan civitas academica dalam menghasilkan, mengevaluasi, dan mengomunikasikan pengetahuan secara bertanggung jawab.
Upaya ini sejalan dengan SDG 4 (Pendidikan Berkualitas) melalui penguatan kapasitas akademik dan literasi penelitian, SDG 9 (Industri, Inovasi, dan Infrastruktur) melalui dukungan terhadap riset dan inovasi berbasis pengetahuan, serta SDG 17 (Kemitraan untuk Mencapai Tujuan) melalui kolaborasi dengan penerbit dan penyedia sumber informasi ilmiah.
Sebab, publikasi ilmiah bukan sekadar tentang membuat penelitian “terbit”. Lebih dari itu, setiap tahap, dari menyusun cerita penelitian hingga merespons kritik reviewer, merupakan proses untuk memastikan pengetahuan yang dihasilkan memiliki bukti yang kuat, kontribusi yang jelas, dan menemukan pembaca yang tepat.
Kontributor: Wasilatul Baroroh