Apa jadinya kalau perpustakaan bukan lagi sekadar tempat mencari buku, tetapi menjadi ruang belajar yang didukung kecerdasan artifisial (AI), layanan digital yang serba pintar, hingga mitra strategis dalam riset dan inovasi? Gambaran itulah yang sedang disiapkan Perpustakaan dan Arsip Universitas Gadjah Mada (UGM) melalui workshop “Perpustakaan UGM Menghadapi Plural Futures: Belajar dari Praktik Baik di Asia Tenggara” yang diselenggarakan pada 19 dan 22 Juni 2026 secara daring.
Workshop ini mengajak pustakawan dan tenaga perpustakaan di UGM untuk membayangkan seperti apa wajah perpustakaan beberapa tahun ke depan. Bukan dengan menebak-nebak tren, melainkan belajar langsung dari praktik baik berbagai perpustakaan perguruan tinggi di Asia Tenggara, kemudian menerjemahkannya menjadi inovasi yang sesuai dengan kebutuhan civitas academica UGM.
Kepala Perpustakaan dan Arsip UGM, Arif Surachman, SIP., MBA., menjadi narasumber utama dalam kegiatan ini. Sesi pertama dimoderatori oleh Wasilatul Baroroh, S.S.I., sedangkan sesi kedua dipandu oleh Delta Ira Anggreanie, S.IP.
Dalam paparannya, Arif Surachman mengenalkan konsep plural futures, yaitu cara pandang bahwa masa depan perpustakaan tidak hanya memiliki satu bentuk. Setiap perpustakaan dapat berkembang dengan cara yang berbeda sesuai karakter institusi, kebutuhan pengguna, perkembangan teknologi, dan perubahan dunia pendidikan.
“Melalui workshop ini, kami ingin mendorong lahirnya strategi pengembangan perpustakaan yang tidak sekadar mengikuti tren, tetapi benar-benar relevan dengan kebutuhan civitas academica UGM. Praktik baik dari berbagai negara bisa menjadi inspirasi yang kemudian diterjemahkan menjadi solusi yang sesuai dengan konteks lokal,” ujar Arif.
Berbagai contoh yang dibahas dalam workshop merupakan hasil pembelajaran Arif Surachman saat mengikuti kegiatan ASEAN University Network Inter-Library Online (AUNILO), forum kerjasama perpustakaan perguruan tinggi di Asia Tenggara. Dari forum tersebut, ia membawa beragam praktik baik yang telah diterapkan sejumlah perpustakaan anggota untuk menjadi bahan refleksi sekaligus inspirasi bagi pengembangan layanan di Perpustakaan dan Arsip UGM.
Peserta diajak melihat bagaimana perpustakaan di Thailand mulai memanfaatkan AI melalui chatbot, pelatihan kecerdasan artifisial, hingga layanan pendukung riset berbasis AI. Sementara itu, berbagai universitas di Vietnam mengembangkan perpustakaan digital cerdas, institutional repository, layanan Open Educational Resources (OER), pelatihan literasi AI, dan integrasi layanan perpustakaan dengan ekosistem digital kampus.
Melalui berbagai contoh tersebut, peserta diajak menyadari bahwa perpustakaan masa depan bukan hanya tempat menyimpan koleksi, tetapi juga ruang kolaborasi, inovasi, dan pengembangan pengetahuan yang terus berevolusi.
Namun workshop ini tidak berhenti pada sesi mendengarkan materi. Peserta dibagi ke dalam beberapa kelompok untuk merancang inovasi yang benar-benar bisa diterapkan di Perpustakaan dan Arsip UGM. Setiap kelompok diminta mengidentifikasi berbagai peluang, memilih satu gagasan terbaik, lalu mengembangkannya menjadi rencana aksi yang realistis untuk dipresentasikan pada pertemuan kedua.
Diskusi berlangsung aktif karena setiap kelompok saling bertukar gagasan dan menyempurnakan ide. Berbagai usulan yang mengemuka antara lain optimalisasi co-working space perpustakaan sebagai ruang kolaborasi sivitas akademika, penguatan program literasi informasi untuk mendukung kegiatan riset, hingga pengembangan layanan yang lebih kreatif dan adaptif sesuai kebutuhan pengguna.
Pendekatan ini menunjukkan bahwa inovasi tidak selalu harus dimulai dari sesuatu yang besar. Belajar dari pengalaman perpustakaan lain, memahami kebutuhan pengguna sendiri, lalu berani mencoba solusi baru menjadi langkah awal membangun perpustakaan yang lebih relevan.
Workshop ini juga menjadi bagian dari komitmen Perpustakaan dan Arsip UGM dalam mendukung Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 4 (Pendidikan Berkualitas) melalui penguatan kapasitas pustakawan sebagai pendukung pembelajaran sepanjang hayat, SDG 9 (Industri, Inovasi, dan Infrastruktur) melalui transformasi layanan berbasis teknologi dan inovasi, serta SDG 17 (Kemitraan untuk Mencapai Tujuan) dengan mendorong pertukaran pengetahuan dan praktik baik antar perpustakaan di Asia Tenggara.
Di tengah pesatnya perkembangan teknologi, satu hal menjadi semakin jelas: masa depan perpustakaan tidak ditentukan oleh seberapa banyak koleksi yang dimiliki, melainkan oleh kemampuannya untuk terus belajar, berinovasi, dan menghadirkan layanan yang benar-benar dibutuhkan penggunanya. Dan perjalanan menuju masa depan itu sedang dimulai dari Perpustakaan dan Arsip UGM.
Kontributor: Wasilatul Baroroh