Puluhan jurnal sudah terkumpul. Tab browser semakin banyak. Berbagai artikel sudah dibaca dan dirangkum. Namun, satu pertanyaan masih mengganjal: dari semua penelitian itu, sebenarnya apa yang masih belum terjawab?
Pertanyaan tersebut menjadi pintu masuk Workshop Step by Step Systematic Literature Review yang diselenggarakan Perpustakaan dan Arsip UGM berkolaborasi dengan Fakultas Geografi UGM, Kamis (24/9/2026) secara hybrid.
Melalui workshop ini, peserta diajak melihat bahwa Systematic Literature Review (SLR) bukan sekadar kegiatan mencari sebanyak mungkin jurnal, kemudian membaca dan merangkumnya. Ada proses sistematis yang perlu dilalui agar literatur yang dikumpulkan dapat digunakan untuk menjawab pertanyaan penelitian secara terarah dan berbasis bukti.
Kepala Perpustakaan dan Arsip UGM, Arif Surachman, SIP., MBA., dalam sambutannya menyampaikan terima kasih atas kolaborasi yang terjalin dengan Fakultas Geografi UGM dalam penyelenggaraan kegiatan tersebut.
“Terima kasih kepada Fakultas Geografi UGM yang telah berkolaborasi dengan Perpustakaan dan Arsip UGM dalam menyelenggarakan kegiatan ini. Semoga kegiatan Systematic Literature Review ini dapat memberikan manfaat bagi civitas academica dalam mendukung kegiatan penelitian,” ujar Arif.
Kegiatan kemudian dibuka oleh Wakil Dekan Bidang Pendidikan, Pengajaran, dan Kemahasiswaan Fakultas Geografi UGM, Dr. Erlis Saputra, S.Si., M.Si. Ia menekankan manfaat penguasaan SLR bagi mahasiswa, dosen, maupun peneliti dalam mendukung kualitas karya ilmiah.
“Penguasaan metode SLR akan menjadi pondasi kuat untuk meningkatkan kualitas publikasi ilmiah kita di tingkat internasional,” tuturnya.
Memasuki sesi utama, Dr. Yaniasih, S.TP., M.P., Peneliti dari Pusat Riset Sains Data dan Informasi Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), membawa peserta mengikuti proses SLR secara bertahap. Sesi ini dipandu oleh Aprilia Mardiastuti, S.I.P., M.A., Pustakawan UGM, yang mengarahkan jalannya diskusi dan membantu peserta mengikuti materi yang disampaikan. Yaniasih memulai pembahasan dari hal yang kerap terlewat ketika seseorang hendak melakukan tinjauan literatur, yaitu merumuskan pertanyaan penelitian.
Sebelum membuka Scopus atau Web of Science dan mulai memasukkan kata kunci, peneliti perlu mengetahui terlebih dahulu apa yang ingin dijawab. Dari pertanyaan tersebut, barulah disusun kata kunci pencarian, sinonim, kriteria inklusi dan eksklusi, serta strategi pencarian yang sesuai.
“SLR bukan sekadar mengumpulkan artikel. Kita harus punya pertanyaan yang jelas, kemudian menentukan bagaimana bukti akan dicari, diseleksi, dinilai, dan disintesis,” jelas Yaniasih.
Peserta kemudian mempraktikkan bagaimana sebuah masalah penelitian diterjemahkan menjadi kata kunci dan strategi pencarian. Logika Boolean, misalnya, digunakan untuk menghubungkan istilah yang dicari, seperti OR untuk menggabungkan sinonim dalam satu konsep dan AND untuk menghubungkan beberapa konsep penelitian.
Perjalanan tidak berhenti ketika artikel berhasil ditemukan. Literatur yang terkumpul masih harus diseleksi melalui proses screening, dinilai kualitasnya, kemudian diambil informasi yang relevan melalui ekstraksi data. Dalam sesi praktik, peserta dikenalkan dengan Parsifal untuk membantu proses pengelolaan dan seleksi literatur.
Di tahap inilah kemampuan membaca kritis menjadi penting. Peneliti tidak cukup hanya mengetahui apa yang dikatakan masing-masing artikel. Ia perlu membandingkan temuan, mempertanyakan keterbatasan metode, melihat hasil yang berbeda, serta mengidentifikasi konteks atau kelompok yang belum banyak dikaji.
Dari pembacaan kritis tersebut, peneliti dapat memetakan State of the Art (SoTA), menemukan research gap, kemudian merumuskan novelty dan kontribusi penelitian.
“Tanpa keberanian untuk mempertanyakan batas riset terdahulu, kita hanya akan menjadi perangkum data, bukan peneliti yang menemukan novelty,” kata Yaniasih.
Untuk mendukung proses tersebut, workshop turut memperkenalkan berbagai aplikasi yang dapat digunakan dalam perjalanan SLR. Selain database untuk pencarian literatur, peserta dikenalkan dengan aplikasi untuk screening, ekstraksi dan pengolahan literatur, hingga pemetaan penelitian. Elicit dan SciSpace dapat membantu proses pengorganisasian dan ekstraksi informasi, sedangkan VOSviewer dan Bibliometrix dapat digunakan untuk membantu melihat pola serta hubungan dalam kumpulan literatur.
Kecerdasan artifisial (AI) juga mendapat perhatian khusus. Alih-alih menempatkan AI sebagai pengganti peneliti, Yaniasih memperkenalkan pendekatan The AI Sandwich yakni manusia menentukan arah dan kriteria, AI membantu pekerjaan analitis di tengah proses, kemudian manusia kembali melakukan pemeriksaan dan mengambil keputusan.
“AI itu asisten, bukan reviewer. Hasil dari AI tetap harus diverifikasi,” tegasnya.
Prinsip tersebut juga diterapkan ketika peserta mulai memasuki tahap penulisan. Setelah proses pencarian, seleksi, penilaian, ekstraksi, dan sintesis dilakukan, hasil penelitian perlu dituangkan ke dalam laporan atau draft artikel secara runtut. Peserta juga diajak memahami perbedaan antara hasil dan pembahasan. Dimana hasil menyajikan temuan secara objektif, sedangkan pembahasan menginterpretasikan temuan, menghubungkan berbagai bukti, serta menjelaskan implikasinya.
Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya memperkuat dukungan terhadap kebutuhan riset sivitas akademika. Kemampuan menelusuri, mengevaluasi, mengolah, dan menggunakan informasi secara kritis berkaitan erat dengan SDG 4: Pendidikan Berkualitas, sementara penguatan praktik riset berbasis bukti dan pemanfaatan teknologi mendukung SDG 9: Industri, Inovasi, dan Infrastruktur. Kolaborasi antara Fakultas Geografi UGM dan Perpustakaan dan Arsip UGM dalam penyelenggaraan kegiatan ini juga sejalan dengan SDG 17: Kemitraan untuk Mencapai Tujuan, melalui penguatan kerja sama untuk mendukung pengembangan kapasitas dan ekosistem riset di lingkungan perguruan tinggi.
Pada akhirnya, SLR bukan perlombaan untuk mengumpulkan jurnal sebanyak-banyaknya. Nilainya justru terletak pada kemampuan peneliti untuk menghubungkan bukti yang tersebar, menemukan pola, melihat apa yang masih belum terjawab, dan menjadikannya pijakan untuk penelitian berikutnya. Sebab, di antara ratusan artikel yang sudah pernah ditulis, bisa jadi ada satu celah pengetahuan yang menunggu untuk ditemukan.
Kontributor: Wasilatul Baroroh