Webinar “AI Tanpa Drama: Praktis, Hemat, dan Siap Digunakan”, Forum Pustakawan UGM Ajak Ratusan Peserta Kenali Pemanfaatan AI di Perpustakaan

Transformasi teknologi digital semakin mengubah cara perpustakaan mengelola pengetahuan dan memberikan layanan informasi. Menyadari dinamika tersebut, Forum Pustakawan Universitas Gadjah Mada (UGM) menghadirkan webinar nasional bertajuk “AI Tanpa Drama: Praktis, Hemat, dan Siap Digunakan” dalam kegiatan Ngabuburit Bersama Forum Pustakawan UGM yang digelar secara daring pada Rabu (4/3/2026).

Webinar ini diikuti sekitar 300 peserta dari berbagai institusi di Indonesia, mulai dari pustakawan, arsiparis, dosen, mahasiswa, hingga praktisi teknologi informasi. Forum ini menjadi ruang berbagi pengalaman sekaligus pembelajaran praktis mengenai pemanfaatan Artificial Intelligence (AI) untuk mendukung pengelolaan informasi dan layanan perpustakaan di era digital. 

Ketua panitia, Safirotu Khoir, Ph.D., menyampaikan bahwa kegiatan ini dirancang sebagai ruang diskusi yang mendorong pustakawan memahami teknologi AI secara realistis dan aplikatif. “Melalui forum ini kami berharap pustakawan dapat melihat bahwa AI tidak selalu mahal atau rumit. Banyak solusi yang sebenarnya bisa langsung dimanfaatkan untuk membantu pekerjaan sehari-hari di perpustakaan,” ujarnya.

Kegiatan dibuka oleh Kepala Perpustakaan dan Arsip UGM, Arif Surachman, SIP., MBA. Ia menekankan bahwa pustakawan perlu bersikap adaptif terhadap perkembangan teknologi informasi yang berlangsung sangat cepat. “Pemanfaatan AI harus dipandang sebagai peluang untuk meningkatkan efisiensi kerja sekaligus memperluas akses pengetahuan bagi civitas academica dan masyarakat,” kata Arif.

Sesi diskusi dipandu oleh moderator yakni Maniso Mustar, S.I.Pust., pustakawan UGM, yang mengarahkan jalannya dialog secara interaktif. Materi utama disampaikan oleh Yuan Oktafian, Sekretaris Jenderal Forum Perpustakaan Digital Indonesia, yang membahas pemanfaatan AI secara praktis tanpa memerlukan infrastruktur teknologi yang kompleks. 

Dalam pemaparannya, Yuan memperkenalkan konsep Custom GPT, yakni asisten AI yang dapat dikonfigurasi sesuai kebutuhan organisasi dengan memasukkan instruksi serta dokumen pengetahuan tertentu. Teknologi ini dapat dimanfaatkan untuk membantu berbagai pekerjaan pustakawan, mulai dari katalogisasi koleksi, pembuatan metadata, hingga layanan referensi bagi pengguna. “AI dapat membantu pustakawan bekerja lebih efisien, misalnya dalam menghasilkan metadata, klasifikasi buku, atau rekomendasi referensi. Namun hasilnya tetap perlu diverifikasi oleh pustakawan agar sesuai standar pengolahan informasi,” jelasnya.

Ia juga menjelaskan pendekatan Retrieval-Augmented Generation (RAG) yang memungkinkan AI memberikan jawaban berdasarkan dokumen yang dimasukkan sebagai sumber pengetahuan, seperti buku, artikel jurnal, maupun laporan penelitian. Pendekatan ini dinilai berpotensi memperkuat layanan informasi digital di perpustakaan. 

Diskusi berlangsung aktif dengan berbagai pertanyaan dari peserta, antara lain mengenai keterampilan baru yang perlu dimiliki pustakawan, integrasi AI dengan sistem perpustakaan seperti OPAC atau repositori institusi, serta isu keamanan data dan privasi dalam penggunaan teknologi AI. 

Kegiatan Ngabuburit Bersama Forum Pustakawan UGM merupakan agenda rutin yang diselenggarakan selama bulan Ramadan sebagai ruang belajar bersama bagi pustakawan. Tradisi ngabuburit dimaknai tidak sekadar menunggu waktu berbuka, tetapi juga mengisi waktu dengan kegiatan yang memperkaya wawasan dan kompetensi profesional.

Kegiatan ini sejalan dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), khususnya SDG 4 Pendidikan Berkualitas melalui penguatan literasi digital dan peningkatan kompetensi pustakawan, serta SDG 9 Industri, Inovasi, dan Infrastruktur yang mendorong pemanfaatan teknologi inovatif dalam pengelolaan pengetahuan dan layanan informasi.

Kontributor: Wasilatul Baroroh