Menulis karya ilmiah tidak berhenti pada menemukan referensi yang tepat. Setelah literatur terkumpul, peneliti masih perlu memastikan nama penulis, tahun publikasi, DOI, sitasi, hingga daftar pustaka tercatat dengan benar. Pekerjaan yang tampak sederhana ini bisa cukup menyita waktu, terutama ketika naskah harus direvisi atau mengikuti gaya sitasi yang berbeda.
Persoalan tersebut menjadi salah satu hal yang dibahas dalam Workshop Literasi Serial Academic Writing bertajuk “Integrasi Reference Manager dengan Database ScienceDirect” yang diselenggarakan Perpustakaan dan Arsip Universitas Gadjah Mada (UGM) di Ruang Laboratorium Komputer, Gedung L1 Lantai 5 Perpustakaan dan Arsip UGM, Kamis (1/10/2026).
Dalam kegiatan ini, peserta diperkenalkan pada pemanfaatan reference manager seperti Zotero dan Mendeley untuk membantu mengelola literatur sekaligus menyederhanakan proses sitasi. Penggunaan aplikasi tersebut dapat membantu mengimpor sumber dari database atau situs web, menyimpan informasi bibliografis, mengelola sitasi, hingga menghasilkan daftar pustaka sesuai citation style yang dipilih.
Kegiatan ini turut mendukung upaya penguatan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), terutama SDG 4: Pendidikan Berkualitas melalui peningkatan literasi informasi dan keterampilan akademik civitas academica. Pemanfaatan reference manager dan database ilmiah juga sejalan dengan SDG 9: Industri, Inovasi, dan Infrastruktur, khususnya dalam mendorong pemanfaatan teknologi digital dan infrastruktur informasi untuk mendukung kegiatan penelitian.
Reference manager memiliki manfaat yang tidak sebatas membuat daftar pustaka secara otomatis. Tools ini juga membantu menghindari ketidaksesuaian antara sitasi dan daftar pustaka, memudahkan penggantian gaya sitasi ketika naskah disesuaikan dengan ketentuan jurnal, serta membantu mengorganisasi dan menemukan kembali literatur yang telah digunakan. Dengan demikian, waktu yang biasanya tersita untuk pekerjaan administratif dapat dialihkan untuk memikirkan substansi tulisan.
Hal ini menjadi semakin penting karena kesalahan dalam pengelolaan referensi cukup mudah terjadi. Artikel yang sudah dikutip bisa saja terlupa dimasukkan ke daftar pustaka. Sebaliknya, ada pula referensi yang tercantum dalam daftar pustaka tetapi tidak pernah dikutip. Kesalahan nama penulis, tahun publikasi, DOI, maupun urutan daftar pustaka juga dapat muncul ketika seluruh proses dilakukan secara manual.
Hadir sebagai narasumber, Janu Saptari, SIP., Pustakawan Madya UGM, yang berbagi pengetahuan mengenai fungsi reference manager, serta mengajak peserta mempraktikkan penggunaannya. Peserta dikenalkan dengan berbagai cara memasukkan data referensi, mulai dari entri manual, impor data dalam format RIS, memasukkan file PDF, menggunakan DOI atau PMID, hingga memanfaatkan web importer.
Janu juga mengingatkan bahwa otomatisasi bukan berarti seluruh proses dapat dilakukan tanpa pengecekan. Metadata yang diperoleh dari suatu sumber bisa saja tidak lengkap sehingga tetap perlu diperiksa dan diedit sebelum digunakan.
“Sering kali waktu peneliti tersita hanya untuk urusan teknis seperti merapikan format dan gaya sitasi. Dengan mengintegrasikan perangkat lunak penata referensi langsung ke database seperti ScienceDirect, peneliti bisa menghemat waktu secara signifikan dan mengalihkan fokus penuh pada substansi tulisan,” ungkap Janu Saptari di sela-sela pemaparan materi.
Pada sesi praktik, peserta kemudian diajak melihat bagaimana Zotero dan Mendeley dapat digunakan bersama ScienceDirect melalui add-on pada peramban. Pada Zotero, metadata dari ScienceDirect dapat diekspor menggunakan format seperti RIS dan BibTeX. Sementara pada Mendeley, pengguna dapat mengekspor metadata secara langsung, menggunakan format metadata standar, serta memanfaatkan keterhubungannya dengan ekosistem Elsevier dan ScienceDirect.
Integrasi tersebut membuat proses pengelolaan referensi menjadi lebih sederhana. Ketika menemukan artikel yang relevan di ScienceDirect, pengguna tidak harus kembali memasukkan seluruh informasi bibliografis secara manual. Referensi dapat ditambahkan ke dalam reference manager, kemudian dikelola dan digunakan kembali saat menulis.
Kepala Bidang Data dan Sistem Informasi Perpustakaan dan Arsip UGM, Yulistiarini Kumaraningrum, S.P., M.M., menegaskan pentingnya civitas academica memanfaatkan database ilmiah yang telah dilanggan universitas.
“UGM melanggan banyak database bereputasi tinggi, termasuk ScienceDirect, untuk menunjang kebutuhan riset seluruh civitas academica. Namun perlu dipahami bahwa keberlanjutan investasi langganan database ini terus kami evaluasi secara berkala berdasarkan tingkat pemakaian. Melalui pelatihan ini, kami berharap para mahasiswa dan peneliti dapat mengoptimalkan pemanfaatan referensi digital untuk meningkatkan kualitas serta kuantitas publikasi ilmiah UGM,” ujar Yulistiarini.
Workshop ini menjadi bagian dari upaya Perpustakaan dan Arsip UGM untuk memperkuat keterampilan civitas academica dalam memanfaatkan sumber informasi digital untuk kegiatan akademik dan penelitian. Penguasaan teknologi pendukung penulisan seperti reference manager dapat membantu peneliti bekerja lebih efisien, sekaligus membuat proses pengelolaan referensi menjadi lebih tertata.
Kontributor: Wasilatul Baroroh