Perpustakaan ITB Kunjungi Perpustakaan dan Arsip UGM, Dalami Strategi Pengembangan Co-Working Space

Citra perpustakaan sebagai “ruang sunyi tempat menyimpan buku” pelan-pelan mulai terkikis. Menjawab perubahan gaya belajar mahasiswa era digital, pimpinan Perpustakaan Institut Teknologi Bandung (ITB) bertandang ke Universitas Gadjah Mada (UGM) pada Kamis (10/9/2026) untuk diskusi soal pengelolaan fisik perpustakaan dan pengembangan Co-Working Space (CWS).

Kunjungan yang berlangsung di Ruang Sidang Arsip Gedung L7 lantai 2 Perpustakaan dan Arsip UGM ini dipimpin langsung oleh Kepala Perpustakaan ITB Ena Sukmana, S.Sos., bersama Kepala Bidang Layanan IT Moch. Arif Trikanda, S.Si. Rombongan disambut oleh Kepala Perpustakaan dan Arsip UGM Arif Surachman, SIP., MBA., beserta tim manajemen dan humas UGM.

Dalam pertemuan tersebut, Ena Sukmana membedah berbagai tantangan dalam menghadirkan ruang belajar modern di kampus, mulai dari merumuskan konsep awal CWS hingga menentukan standar fasilitas yang benar-benar dibutuhkan mahasiswa.

Menanggapi hal itu, Arif Surachman berbagi pengalaman Perpustakaan dan Arsip UGM saat membangun The Gade Creative Lounge (TGCL). Menurutnya, kunci sukses merenovasi ruang belajar tanpa terganjal birokrasi yang rumit terletak pada skema kemitraan strategis dengan pihak eksternal.

“Awalnya kita matangkan konsep, desain, dan proposalnya, lalu diserahkan ke bagian kerja sama UGM untuk dijajaki bersama mitra, dalam hal ini Pegadaian. Dari pihak Pegadaian dilakukan redesign tanpa mengubah esensi konsep awal. Seluruh proses pengerjaan diurus oleh Pegadaian hingga tuntas, sehingga serah terima dilakukan dalam bentuk hibah barang. Skema ini sangat memudahkan proses Laporan Pertanggungjawaban (LPJ),” ujar Arif.

Tak cuma soal infrastruktur fisik, strategi pembagian ruang juga jadi topik hangat. Perpustakaan dan Arsip UGM membagikan terobosannya dalam merespons karakter pemustaka yang beragam, dari mahasiswa yang butuh suasana hening total hingga mereka yang butuh ruang untuk diskusi kelompok.

Koordinator Humas dan Urusan Internasional UGM, Safirotu Khoir, Ph.D., menjelaskan bahwa Perpustakaan dan Arsip UGM membagi area perpustakaan menjadi tiga zonasi utama: Silent Zone, Quiet Zone, dan Conversation Friendly Zone. Menurutnya, penetapan kriteria di tiap zona bertujuan agar semua kebutuhan mahasiswa bisa terakomodasi tanpa saling mengganggu.

Melengkapi aturan zonasi tersebut, Perpustakaan dan Arsip UGM juga memperluas akses jam operasional. Kepala Bidang Perpustakaan UGM Wahyu Supriyanto, S.E., M.Si., menyebut bahwa perpustakaan berupaya maksimal memenuhi kebutuhan mahasiswa dengan membuka layanan Senin–Jumat hingga pukul 22:00 WIB dan Sabtu hingga pukul 16:00 WIB.

Langkah kolaborasi antarkampus ini sejalan dengan agenda Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), khususnya SDG 4 (Pendidikan Berkualitas) melalui penyediaan sarana belajar yang inklusif, SDG 9 (Industri, Inovasi, dan Infrastruktur) melalui modernisasi sarana fisik perpustakaan yang mendukung inovasi mahasiswa, serta SDG 17 (Kemitraan untuk Mencapai Tujuan) melalui sinergi lintas lembaga antara UGM dan ITB.

Pertemuan ini menegaskan satu hal, yakni di tengah derasnya arus informasi digital, gedung perpustakaan dituntut untuk terus bertransformasi. Bukan lagi sekadar tempat menyimpan tumpukan kertas, melainkan ruang hidup tempat ide-ide baru digodok dan dikembangkan bersama.

Kontributor: Wasilatul Baroroh