Kesempurnaan ibadah dalam Islam selalu berawal dari satu hal mendasar: bersuci. Di bulan suci Ramadan, ketika umat Muslim berupaya meningkatkan kualitas ibadah, pemahaman tentang thaharah menjadi semakin penting. Menjawab kebutuhan tersebut, Dharma Wanita Persatuan (DWP) Perpustakaan dan Arsip UGM bekerja sama dengan Forum Silaturahmi Muslimah (Forsilam) UGM menggelar Seri Kajian Fiqih Ibadah: Thaharah, Jumat (13/3/2026).
Kegiatan yang berlangsung di Ruang Seminar Gedung L1 Lantai 2 Perpustakaan dan Arsip UGM ini menghadirkan Ustadzah Ummi Masbihah, pengasuh Pondok Pesantren Darush Shalihat sekaligus istri dari Ustadz Syatori Abdul Rauf, sebagai narasumber. Diskusi dipandu oleh Umi Nurida Suciati, S.Pd., M.A., pustakawan UGM yang bertindak sebagai moderator.
Acara diawali dengan pembacaan ayat suci Al-Qur’an oleh Athifah Dihyan Calysta, mahasiswa kerja paruh waktu di Perpustakaan dan Arsip UGM. Dalam kesempatan tersebut, Athifah membacakan Q.S. Al-Maidah ayat 6–7, yang menjelaskan tentang perintah bersuci sebelum melaksanakan ibadah, sekaligus mengingatkan umat Muslim akan pentingnya menjaga kebersihan lahir dan batin sebagai bagian dari ketaatan kepada Allah SWT.
Kajian ini dirancang sebagai ruang belajar bagi muslimah untuk memperdalam pemahaman fiqih dasar yang menjadi fondasi ibadah sehari-hari, khususnya terkait tata cara bersuci yang benar menurut syariat.
“Banyak orang merasa sudah benar dalam berwudhu atau bersuci, padahal masih ada hal-hal kecil yang sering terlewatkan. Padahal, sah atau tidaknya ibadah kita sangat bergantung pada kesempurnaan thaharah,” ujar Ustadzah Ummi Masbihah dalam pemaparannya.
Menurutnya, pemahaman fiqih yang aplikatif sangat penting agar ibadah tidak sekadar menjadi rutinitas, tetapi benar-benar dilakukan sesuai tuntunan syariat. Ia juga mengajak para peserta untuk terus belajar dan saling mengingatkan dalam kebaikan.
“Belajar fiqih bukan hanya tentang pengetahuan, tetapi juga tentang menjaga kualitas ibadah kita kepada Allah SWT,” tambahnya.
Selain memperdalam ilmu agama, kegiatan ini juga menjadi sarana mempererat ukhuwah di antara muslimah di lingkungan UGM. Para peserta tidak hanya menyimak materi, tetapi juga berdiskusi mengenai berbagai persoalan praktik ibadah yang sering ditemui dalam kehidupan sehari-hari.
Moderator kegiatan, Umi Nurida Suciati, menyampaikan bahwa forum kajian seperti ini dapat menjadi ruang literasi keagamaan yang inklusif dan berkelanjutan bagi civitas academica.
“Perpustakaan dan Arsip tidak hanya menjadi pusat literasi akademik, tetapi juga ruang bertumbuh bagi literasi spiritual dan nilai-nilai kehidupan,” ujarnya.
Kegiatan ini juga selaras dengan tujuan Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 4: Pendidikan Berkualitas, melalui penyediaan ruang pembelajaran sepanjang hayat, serta SDG 3: Kehidupan Sehat dan Sejahtera, dengan mendorong keseimbangan antara penguatan spiritual dan kesejahteraan mental. Di sisi lain, kolaborasi antara DWP Perpustakaan dan Arsip UGM dengan Forsilam UGM juga mencerminkan implementasi SDG 17: Kemitraan untuk Mencapai Tujuan.
Melalui kajian fiqih yang sederhana namun mendalam ini, para peserta diingatkan kembali bahwa ibadah yang berkualitas selalu dimulai dari pemahaman yang benar. Sebab, dari kesadaran kecil tentang bersuci, lahir komitmen besar untuk memperbaiki kualitas hubungan manusia dengan Tuhannya.
Kontributor: Wasilatul Baroroh