Dari WHY hingga SO WHAT, Begini “Jalan Cerita” Artikel Ilmiah yang Kuat 

Apa yang membuat sebuah artikel ilmiah enak dibaca dan kuat secara akademik? Jawabannya tidak berhenti pada banyaknya referensi atau data yang dimiliki. Ada alur yang harus bekerja dari awal hingga akhir, membawa pembaca memahami persoalan, mengikuti proses penelitian, hingga menangkap makna sebuah temuan.

Persoalan itulah yang dibedah Perpustakaan dan Arsip UGM melalui Workshop Literasi Serial Academic Writing bertajuk “Membedah Struktur Artikel Publikasi Ilmiah”, Selasa (15/9/2026), secara hybrid.

Kegiatan tersebut menjadi bagian dari upaya Perpustakaan dan Arsip UGM mendukung perjalanan akademik civitas academica UGM. Berbagai workshop literasi akademik diselenggarakan untuk membantu civitas academica mengembangkan keterampilan yang dibutuhkan dalam proses belajar, penelitian, hingga publikasi ilmiah.

Dalam sambutannya, Yulistiarini Kumaraningrum, S.P., M.M., Kepala Bidang Data dan Sistem Informasi Perpustakaan dan Arsip UGM, menyampaikan bahwa rangkaian kegiatan tersebut merupakan bagian dari dukungan perpustakaan terhadap kebutuhan akademik civitas academica.

“Ini merupakan salah satu program Perpustakaan dan Arsip UGM untuk mendukung perjalanan akademik civitas UGM. Kami menyelenggarakan banyak workshop yang dapat diikuti untuk mendukung kebutuhan akademik dan penelitian civitas,” ujar Yulistiarini.

Dukungan tersebut kemudian dibawa ke persoalan yang lebih spesifik dalam sesi workshop. Di hadapan ratusan peserta, Safirotu Khoir, Ph.D., Koordinator Humas dan Urusan Internasional Perpustakaan dan Arsip UGM sekaligus Dosen Sekolah Pascasarjana UGM, mengajak peserta membongkar artikel ilmiah bukan sekadar dari apa yang tertulis, tetapi dari bagaimana setiap bagian bekerja dan terhubung satu sama lain.

Untuk menjelaskannya, Safirotu menggunakan analogi yang dekat dengan kehidupan sehari-hari: seorang chef.

“Penulis itu seperti chef yang menghasilkan hidangan yang lezat.”

Referensi dan data, dalam analogi tersebut, menjadi bahan yang harus dipilih dengan baik. Namun, bahan yang bagus tidak otomatis menghasilkan hidangan yang baik. Penulis tetap perlu mengolahnya dengan alur logika yang tepat. Di situlah inovasi atau novelty juga berperan sebagai pembeda dari penelitian yang telah ada.

Dari “dapur” tersebut, peserta kemudian diajak melihat bahwa artikel ilmiah memiliki jalan cerita. Ada lima pertanyaan yang dapat digunakan untuk menguji apakah alur sebuah paper sudah terarah: WHY, WHAT, HOW, FIND, dan SO WHAT.

WHY menanyakan mengapa penelitian penting dilakukan. WHAT mencari tahu apa yang belum diketahui. HOW menjelaskan bagaimana jawaban dicari. FIND menunjukkan apa yang ditemukan. Sementara SO WHAT mengajak penulis menjawab pertanyaan paling penting setelah temuan diperoleh: lalu, apa arti temuan tersebut?

Lima pertanyaan itu kemudian terhubung dengan anatomi artikel ilmiah. Title memberi tahu apa yang dibahas, abstract merangkum inti tulisan, introduction membangun alasan penelitian, dan methods menunjukkan bagaimana pertanyaan penelitian dijawab. 

Perjalanan kemudian berlanjut ke results dan discussion. Keduanya sering dianggap serupa, padahal memiliki pekerjaan berbeda. Results berfokus pada apa yang ditemukan, sedangkan discussion menjelaskan apa arti temuan tersebut dan bagaimana temuan itu berhubungan dengan penelitian sebelumnya. Di bagian akhir, conclusion membawa pembaca kembali pada pesan utama penelitian. Sementara itu, references menjadi jejak yang memperlihatkan sumber pengetahuan yang digunakan penulis.

“Daftar pustaka adalah isi otak penulis,” ujar Safirotu.

Pesan tersebut menunjukkan bahwa daftar pustaka memiliki posisi penting dalam membangun tulisan ilmiah. Kedalaman referensi turut memperlihatkan seberapa jauh penulis memahami bidang yang dikaji, membangun argumen, dan menempatkan penelitiannya di antara kajian-kajian sebelumnya.

Melalui workshop ini, Perpustakaan dan Arsip UGM mendorong civitas academica untuk melihat penulisan ilmiah sebagai bagian dari perjalanan akademik yang membutuhkan keterampilan dan proses belajar berkelanjutan. Kemampuan memahami struktur artikel juga membantu penulis lebih kritis ketika membaca sekaligus lebih terarah ketika menyusun tulisan sendiri.

Upaya tersebut sejalan dengan Sustainable Development Goals (SDG) 4: Pendidikan Berkualitas, terutama dalam penguatan keterampilan yang mendukung pembelajaran dan pendidikan tinggi. Pengembangan kemampuan riset dan penulisan ilmiah juga beririsan dengan SDG 9: Industri, Inovasi, dan Infrastruktur, khususnya dalam mendorong inovasi dan pengembangan pengetahuan berbasis riset.

Pada akhirnya, membedah struktur artikel berarti belajar melihat jalan pikiran di balik sebuah tulisan. Dari pertanyaan mengapa penelitian perlu dilakukan, apa yang masih belum diketahui, bagaimana jawabannya dicari, hingga mengapa temuannya penting, semuanya perlu terhubung. Karena paper yang kuat bukan hanya soal apa yang ditemukan, tetapi juga tentang seberapa jelas penulis membawa pembaca memahami mengapa temuan itu layak diperhatikan.

Kontributor: Wasilatul Baroroh