Suasana Perpustakaan dan Arsip Universitas Gadjah Mada (UGM) tampak lebih hidup pada Kamis (21/5) ketika puluhan mahasiswa dari Universitas Sanata Dharma memenuhi ruang seminar gedung L1 lantai 2 untuk belajar langsung tentang pengelolaan perpustakaan. Tidak sekadar berkunjung, para peserta diajak melihat bagaimana perpustakaan perguruan tinggi kini berkembang menjadi pusat literasi, ruang kolaborasi, hingga ekosistem produksi pengetahuan berbasis digital.
Diikuti oleh sejumlah mahasiswa dari Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Sejarah, PGSD, dan Ekonomi Universitas Sanata, kegiatan ini merupakan bagian dari mata kuliah Pengelolaan Perpustakaan yang bertujuan memperkenalkan praktik pengelolaan perpustakaan secara langsung di lingkungan perguruan tinggi.
Kunjungan diterima langsung oleh Safirotu Khoir, PhD. selaku Koordinator Humas dan Urusan Internasional Perpustakaan dan Arsip UGM. Dalam sambutannya, ia menyampaikan apresiasi atas dipilihnya UGM sebagai lokasi pembelajaran lapangan.
“Terima kasih karena telah memilih Perpustakaan dan Arsip UGM sebagai tempat belajar bersama. Kegiatan seperti ini dapat menjadi ruang untuk saling bertukar pengalaman dan praktik baik,” ujarnya.
Sambutan juga disampaikan oleh Fransisca Rahayuningsih, MA. selaku Kepala Perpustakaan Universitas Sanata Dharma sekaligus dosen pengampu mata kuliah Pengelolaan Perpustakaan. Ia menegaskan bahwa mahasiswa tidak hanya membutuhkan teori, tetapi juga pengalaman melihat langsung praktik pengelolaan perpustakaan di lapangan.
“Kami ingin mahasiswa tidak hanya menerima materi di kelas, tetapi juga memahami bagaimana pengelolaan perpustakaan dijalankan secara nyata, mulai dari layanan, koleksi, hingga sistem informasinya,” ungkapnya.
Pada sesi inti, Wasilatul Baroroh, S.S.I. memaparkan gambaran umum Perpustakaan dan Arsip UGM, mulai dari layanan, pengelolaan koleksi, hingga transformasi digital yang dilakukan perpustakaan.
Dalam pemaparannya, Wasilatul Baroroh menjelaskan bahwa perpustakaan kini berkembang menjadi ruang belajar yang lebih dekat dengan kebutuhan mahasiswa, baik melalui layanan langsung maupun akses digital.
“Perpustakaan sekarang punya dua pintu, yaitu pintu fisik dan pintu digital. Pengguna bisa datang langsung ke gedung perpustakaan, juga bisa mengakses berbagai layanan dan sumber informasi secara daring,” jelasnya.
Antusiasme peserta terlihat sepanjang sesi diskusi. Mahasiswa aktif mengajukan pertanyaan mengenai pengelolaan koleksi, layanan digital, pengembangan literasi informasi, hingga strategi perpustakaan menghadapi era transformasi digital.
Kegiatan ditutup dengan library tour yang mengajak peserta melihat langsung berbagai layanan dan fasilitas di lingkungan Perpustakaan dan Arsip UGM.
Kunjungan akademik ini sekaligus menegaskan peran perpustakaan perguruan tinggi sebagai pusat pembelajaran yang terus berkembang mengikuti kebutuhan zaman. Lebih dari sekadar tempat menyimpan buku, perpustakaan kini hadir sebagai ruang kolaborasi, pengembangan literasi, serta penguatan budaya akademik di tengah arus informasi digital yang semakin kompleks.
Kegiatan ini juga sejalan dengan tujuan Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 4 tentang Pendidikan Berkualitas melalui penguatan literasi informasi dan akses pengetahuan, serta SDG 17 tentang Kemitraan untuk Mencapai Tujuan melalui kolaborasi antar perguruan tinggi dalam pengembangan pendidikan dan literasi akademik.
Kontributor: Aji Bagus Rio Pamungkas