Perpustakaan dan Arsip Universitas Gadjah Mada (UGM) menerima kunjungan studi komparatif dari Universitas Surabaya (UBAYA) pada Senin (4/8/2025). Kunjungan yang berlangsung pukul 09.00 hingga 11.30 WIB di Ruang Sidang Perpustakaan dan Arsip UGM ini menjadi ajang berbagi pengalaman mengenai perjalanan pengembangan perpustakaan dari awal berdiri hingga era digital saat ini, sekaligus mempererat sinergi antarperguruan tinggi.
Dalam sambutannya, Kepala Perpustakaan dan Arsip UGM, Arif Surachman, SIP., MBA., memaparkan proses panjang yang dilalui UGM dalam membangun ekosistem perpustakaan yang terintegrasi dan adaptif. “Pengembangan perpustakaan dan arsip di UGM dari awal hingga ke tahap modern saat ini merupakan buah dari komitmen berkelanjutan. Kami terus berupaya membangun fondasi layanan yang relevan agar perpustakaan dapat terus tumbuh menjadi ruang belajar yang inklusif dan responsif bagi civitas academica,” ujar Arif.

Selanjutnya, Kepala Bidang Perpustakaan UGM, Wahyu Supriyanto, S.E., M.Si., menekankan pentingnya tata kelola serta kolaborasi antarlembaga perpustakaan. “Melalui kolaborasi ini, kita bisa saling menginspirasi dalam hal pengelolaan koleksi, integrasi data, hingga strategi mendekatkan perpustakaan kepada penggunanya,” jelas Wahyu.
Sesi diskusi interaktif semakin menarik ketika perwakilan dari UBAYA melontarkan pertanyaan terkait efektivitas layanan pendampingan tatap muka di era kecerdasan buatan (A.I.). Mereka menanyakan apakah program seperti mini class atau library clinic di UGM masih diminati pemustaka di tengah maraknya penggunaan platform A.I. seperti ChatGPT.
Menjawab pertanyaan tersebut, Koordinator Humas dan Urusan Internasional Perpustakaan dan Arsip UGM, Safirotu Khoir, Ph.D., menegaskan bahwa antusiasme pemustaka terhadap program pendampingan tersebut tetap tinggi. “Meskipun keberadaan A.I. seperti ChatGPT memberikan kemudahan akses informasi secara cepat, minat pengguna untuk datang dan mengikuti mini class maupun library clinic masih sangat banyak. Sebab, sensasi interaksi langsung antarmanusia (human touch) dan pendampingan secara personal memberikan pemahaman serta empati yang tidak bisa digantikan oleh kecerdasan buatan,” ungkap Safirotu.
Kegiatan studi komparatif antara Perpustakaan dan Arsip UGM dan Universitas Surabaya ini sejalan dengan Sustainable Development Goals (SDGs) 4: Pendidikan Berkualitas, melalui upaya peningkatan kapasitas perpustakaan perguruan tinggi dalam menyediakan layanan informasi, literasi, dan pendampingan akademik yang adaptif terhadap perkembangan teknologi. Selain itu, kegiatan ini juga mendukung SDGs 17: Kemitraan untuk Mencapai Tujuan, dengan memperkuat kolaborasi antarinstitusi pendidikan tinggi dalam berbagi praktik baik, inovasi layanan, serta membangun jejaring yang mendorong pengembangan perpustakaan yang inklusif, berkelanjutan, dan berorientasi pada kebutuhan sivitas akademika di era digital.
Kontributor: Zulfanisa Nur Isnaini