Ketika Google Tak Lagi Cukup, Ini Bekal Gamada Menjelajah Perpustakaan dan Arsip UGM

Google mungkin menjadi tempat pertama yang dituju saat tugas kuliah datang. Namun, ketika dosen meminta jurnal ilmiah, referensi kredibel, atau sumber untuk penelitian, mahasiswa perlu tahu bahwa ada pilihan yang lebih luas. Bagi Gadjah Mada Muda (Gamada), sebutan bagi mahasiswa baru UGM, salah satunya adalah Perpustakaan dan Arsip UGM.

Melalui User Education yang berlangsung 18 hingga 21 Agustus 2026 di Ruang Seminar Lantai 2 Perpustakaan dan Arsip UGM, mahasiswa baru dari jenjang S1 hingga S3 dikenalkan pada cara menemukan dan memanfaatkan berbagai sumber informasi. Dikemas dengan semangat “Learning is Fun”, pengenalan ini tidak berhenti pada mengenal gedung atau ruangan, tetapi bagaimana perpustakaan dapat membantu mahasiswa belajar dan mencari informasi dengan lebih tepat.

Salah satu yang perlu diketahui adalah Online Public Access Catalog (OPAC) untuk menelusuri koleksi perpustakaan. Selain buku, Gamada dapat memanfaatkan Electronic Theses and Dissertations (ETD) untuk menemukan skripsi, tesis, dan disertasi. Ada pula institutional repository, portal koleksi langka, serta akses ke e-book, e-journal, dan berbagai database online.

Jangkauannya pun tidak hanya berada di satu tempat. Perpustakaan di lingkungan UGM terhubung dalam satu ekosistem layanan sehingga mahasiswa dapat menelusuri koleksi dari berbagai perpustakaan fakultas maupun unit sesuai kebutuhan bidang studinya.

Ketika pencarian informasi mulai terasa rumit, mahasiswa juga tidak harus menghadapinya sendiri. Melalui Individual Academic Consultation (IAC), Library Clinic, dan Mini Class, pustakawan dapat membantu mahasiswa memahami penelusuran informasi, pemanfaatan database, pengelolaan referensi, hingga analisis bibliometrik dan publikasi ilmiah.

Perpustakaan juga menyediakan ruang belajar yang beragam. Gamada dapat memanfaatkan Co-Working Space BNI, Ruang Belajar Mandiri dan Diskusi, The Gade Creative Lounge (TGCL), serta Window of the World (WOW) untuk belajar, berdiskusi, mengerjakan tugas, maupun berkolaborasi.

Dari sini, “Learning is Fun” bukan sekadar slogan. Mahasiswa diajak melihat perpustakaan sebagai tempat untuk menemukan sumber, bertanya, berdiskusi, dan membangun keterampilan belajar yang akan dibutuhkan sepanjang perjalanan akademik.

Bekal tersebut penting di tengah derasnya informasi. Tantangan mahasiswa bukan lagi sekadar menemukan informasi, tetapi menemukan sumber yang tepat dan tahu bagaimana menggunakannya.

Melalui penguatan akses sumber belajar dan literasi informasi, upaya ini turut mendukung SDG 4: Pendidikan Berkualitas. Bagi Gamada 2026, perjalanan menjadi pembelajar mandiri bisa dimulai dari satu langkah sederhana: tahu ke mana harus mencari ketika membutuhkan informasi.

Kontributor: Wasilatul Baroroh