Jejaki Kerja Sama, Perpustakaan dan Arsip UGM dan Universitas Terbuka Saling Berbagi Praktik Baik

Ide besar sering kali lahir dari sebuah obrolan. Ketika dua institusi duduk bersama, saling berbagi pengalaman, lalu menemukan bahwa mereka bisa saling melengkapi. Suasana itulah yang terasa saat Perpustakaan dan Arsip Universitas Gadjah Mada (UGM) menerima kunjungan dari Pusat Perpustakaan dan Kearsipan Universitas Terbuka (UT), Senin (3/8), di Ruang Sidang Arsip Gedung L7 Perpustakaan dan Arsip UGM. Pertemuan ini menjadi langkah awal untuk menjajaki berbagai peluang kolaborasi dalam pengembangan perpustakaan, kearsipan, hingga teknologi informasi.

Kunjungan yang dipimpin oleh Manajer Kepustakaan Pusat Perpustakaan dan Kearsipan Universitas Terbuka, Kani, S.Kom., M.Kom., bersama tiga staf lainnya merupakan bagian dari upaya Universitas Terbuka memperkuat kualitas layanan perpustakaan dan kearsipan sekaligus memperluas jejaring kerja sama dengan perguruan tinggi lain.

Membuka kegiatan, Kani menyampaikan apresiasinya atas sambutan yang diberikan Perpustakaan dan Arsip UGM. Ia berharap kunjungan ini menjadi awal dari kolaborasi yang lebih luas antara kedua institusi.

“Kami ingin menjajaki peluang kerja sama dengan Perpustakaan dan Arsip UGM, termasuk di bidang teknologi informasi. Kami melihat banyak hal yang bisa dipelajari dan dikembangkan bersama sehingga ke depan kedua institusi dapat saling menguatkan,” ujar Kani.

Gayung pun bersambut. Kepala Perpustakaan dan Arsip UGM, Arif Surachman, SIP., MBA., menyambut baik inisiatif tersebut. Menurutnya, kerja sama antarlembaga akan semakin bermakna jika dibangun atas dasar saling berbagi pengetahuan dan pengalaman.

“Kerja sama bisa dimulai dari hal-hal yang konkret, misalnya berbagi pemanfaatan e-resources. Sebaliknya, kami juga ingin belajar dari Universitas Terbuka, khususnya terkait pengelolaan tugas akhir yang sudah mereka kembangkan,” ungkap Arif.

Mengawali sesi berbagi, Kepala Bidang Perpustakaan Perpustakaan dan Arsip UGM, Wahyu Supriyanto, SE., M.Si., memaparkan gambaran umum Perpustakaan dan Arsip UGM. Ia memperkenalkan sejarah institusi, layanan unggulan, koleksi, fasilitas, hingga berbagai inovasi yang terus dikembangkan untuk mendukung pembelajaran, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat.

Paparan tersebut kemudian menjadi pemantik diskusi yang berlangsung hangat dan interaktif. Kedua institusi saling bertukar pengalaman mengenai pengelolaan perpustakaan dan kearsipan, pengembangan sistem informasi, layanan digital, repositori institusi, hingga berbagai peluang kolaborasi yang dapat diwujudkan di masa mendatang. Suasana diskusi terasa cair karena masing-masing pihak dapat berbagi praktik baik, sekaligus mendiskusikan tantangan yang dihadapi serta solusi yang telah diterapkan di institusinya.

Dalam sesi diskusi, Kepala Bidang Data dan Sistem Informasi Perpustakaan dan Arsip UGM, Yulistiarini Kumaraningsum, S.P., M.M., turut memaparkan berbagai pengembangan teknologi informasi yang telah diterapkan di Perpustakaan dan Arsip UGM. Berbagai sistem dan layanan digital yang mendukung pengelolaan perpustakaan, akses informasi, serta layanan kepada civitas academica menjadi salah satu topik yang menarik perhatian peserta kunjungan. Suasana diskusi pun semakin dinamis dengan adanya pertukaran gagasan mengenai pengembangan teknologi informasi yang dapat mendukung inovasi layanan perpustakaan di kedua institusi.

Kunjungan seperti ini merupakan ruang untuk terus belajar. Setiap institusi memiliki keunggulan yang berbeda, dan ketika pengalaman tersebut dipertemukan, akan lahir gagasan baru yang dapat memperkuat layanan bagi para pemustaka.

Semangat kolaborasi ini sejalan dengan komitmen Perpustakaan dan Arsip UGM dalam mendukung Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 4 (Pendidikan Berkualitas) melalui peningkatan kualitas layanan informasi dan pembelajaran, serta SDG 17 (Kemitraan untuk Mencapai Tujuan) melalui penguatan jejaring dan kolaborasi antarlembaga.

Pertemuan yang berlangsung selama beberapa jam itu mungkin telah usai, tetapi percakapan yang terbangun menjadi awal dari kerja sama yang lebih besar. Sebab, ketika perpustakaan memilih untuk saling belajar dan berbagi, manfaatnya tidak hanya dirasakan oleh institusi, tetapi juga oleh seluruh sivitas akademika yang mereka layani.

Kontributor: Wasilatul Baroroh