Dari Viral di TikTok ke Ruang Riset UGM, Kimpul Ternyata Punya Segudang Potensi

Kimpul yang belakangan ramai diperbincangkan di media sosial ternyata bukan sekadar bahan pengganti dalam kreasi masakan. Di balik kepopulerannya, umbi lokal ini telah menjadi objek penelitian di Universitas Gadjah Mada (UGM) selama lebih dari tiga dekade. Penelusuran melalui Electronic Theses and Dissertations (ETD) Perpustakaan dan Arsip UGM menemukan sedikitnya lima penelitian yang mengkaji kimpul dari beragam perspektif, mulai dari sifat fungsional, modifikasi pati, mikroenkapsulasi, hingga pengembangan kemasan pangan.

Popularitas kimpul di media sosial salah satunya dipicu oleh konten unik kreator TikTok asal Bantul, @black.sheep8208, yang akrab disapa Ibu Kimpul atau Ibu Tin. Dalam berbagai videonya, ia kerap membuat ulang makanan kekinian dengan mengganti bahan utama yang tidak tersedia dengan kimpul. Kalimat ikoniknya, “Karena saya tidak punya…, jadi saya ganti kimpul,” kemudian menjadi ciri khas yang membuat kimpul semakin dikenal publik.

Fenomena tersebut menarik jika dilihat dari perspektif akademik. Jauh sebelum kimpul menjadi perbincangan di media sosial, peneliti UGM telah mengkaji potensi umbi yang dalam literatur ilmiah dikenal sebagai Xanthosoma sagittifolium.

Penelusuran pada koleksi ETD UGM menunjukkan bahwa penelitian mengenai kimpul telah dilakukan sejak 1992. Salah satunya adalah tesis berjudul Kajian Sifat Fungsional Tepung serta Pati Umbi Induk dan Umbi Anakan Kimpul (Xanthosoma sagittifolium Schott) karya Judith Santje Clarfien Moningka pada Program Studi S2 Ilmu dan Teknologi Pangan.

Penelitian tersebut menjadi salah satu pijakan awal dalam melihat kimpul bukan semata sebagai bahan pangan, tetapi juga dari karakteristik tepung dan patinya yang berpotensi dikembangkan untuk berbagai kebutuhan.

Kajian mengenai kimpul kemudian berlanjut pada penelitian-penelitian yang semakin spesifik. Pada 2015, disertasi Warkoyo dalam Program Doktor Ilmu Teknik Pertanian mengkaji Kinetika Kerusakan Bakso Berlapiskan Edible Aktif Berbasis Pati Kimpul (Xanthosoma sagittifolium) Selama Penyimpanan. Penelitian ini menunjukkan bahwa pati kimpul dapat dimanfaatkan sebagai bahan dasar edible film aktif. Salah satu formulasi yang diteliti mampu memperpanjang umur simpan bakso menjadi empat hari, dibandingkan satu hari pada bakso tanpa pelapis.

Pada 2017, penelitian Rosydina Ghassani membandingkan maltodekstrin yang berasal dari pati ubi jalar, kentang, kimpul, dan talas sebagai bahan enkapsulan asap cair. Hasilnya menunjukkan maltodekstrin dari pati kimpul memiliki kelarutan 98,84 persen dengan nilai Dextrose Equivalent (DE) 10,15. Meski efisiensi mikroenkapsulasi tertinggi dalam penelitian tersebut diperoleh dari pati kentang, hasil ini tetap memperlihatkan adanya potensi pati kimpul untuk dikembangkan dalam aplikasi pangan.

Kajian berikutnya pada 2018 dilakukan oleh Khairunnisa Utama melalui penelitian mengenai pengaruh suhu steam explosion terhadap karakteristik pati kimpul. Metode modifikasi tersebut menunjukkan bahwa karakteristik pati dapat diubah, antara lain dengan meningkatkan kelarutan sekaligus menurunkan viskositasnya. Temuan ini membuka peluang pemanfaatan pati kimpul untuk kebutuhan pangan yang memerlukan karakteristik tertentu.

Penelitian paling mutakhir dalam koleksi ETD UGM tercatat pada 2025. Melalui tesis Karakteristik Porous Starch Umbi Kimpul (Xanthosoma sagittifolium) yang Dihidrolisis Menggunakan Enzim Termostabil α-Amilase, Glukoamilase, dan Kombinasi Keduanya, Rosyidah Ashidqiyyah mengkaji potensi kimpul sebagai porous starch, yakni pati yang memiliki pori pada granula sehingga mempunyai permukaan lebih luas dan berpotensi digunakan dalam berbagai aplikasi.

Rangkaian penelitian tersebut memperlihatkan bahwa kimpul memiliki perjalanan panjang dalam khazanah riset UGM. Dari kajian sifat dasar pati pada 1992, pemanfaatannya sebagai bahan kemasan pangan dan enkapsulan, hingga pengembangan porous starch pada 2025, kimpul terus dikaji sebagai sumber daya pangan lokal yang memiliki beragam kemungkinan pemanfaatan.

Fenomena viral kimpul menjadi pengingat bahwa koleksi ilmiah menyimpan banyak pengetahuan yang relevan dengan isu yang tengah diperbincangkan masyarakat. Apa yang tampak sebagai tren di media sosial dapat ditelusuri lebih jauh melalui hasil penelitian yang telah terdokumentasi dan dapat diakses melalui ETD UGM.

Lebih dari sekadar mengikuti tren, penelusuran terhadap riset kimpul menunjukkan pentingnya menghubungkan pengetahuan lokal, penelitian akademik, dan kebutuhan masyarakat. Ketika sebuah bahan pangan lokal kembali mendapat perhatian publik, penelitian yang telah dilakukan bertahun-tahun sebelumnya dapat menjadi pijakan untuk melihat peluang pemanfaatannya secara lebih luas dan berbasis bukti.

Potensi tersebut juga sejalan dengan Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 2: Tanpa Kelaparan, melalui penguatan pemanfaatan sumber pangan lokal; SDG 9: Industri, Inovasi, dan Infrastruktur, melalui pengembangan teknologi pengolahan pangan berbasis pati kimpul; serta SDG 12: Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab, melalui eksplorasi bahan pangan alternatif dan pemanfaatan sumber daya lokal.

Viralnya kimpul mungkin bermula dari sebuah video sederhana dan kalimat, “Karena saya tidak punya…, jadi saya ganti kimpul.” Namun, di balik kelucuan tersebut terdapat jejak pengetahuan yang jauh lebih panjang. Kimpul telah lebih dahulu hadir di ruang-ruang riset UGM—dan kini, ketika kembali menjadi perhatian publik, saatnya melihatnya bukan hanya sebagai tren, tetapi sebagai bagian dari potensi pangan lokal yang masih menyimpan banyak kemungkinan untuk dikembangkan.

Kontributor: Wasilatul Baroroh