Berikut daftar tambahan judul baru koleksi Perpustakaan dan Arsip Universitas Gadjah Mada tahun 2025 sebagai bagian dari pengembangan koleksi yang dilakukan sepanjang tahun. Sebagian judul buku dalam daftar ini merupakan hasil usulan dari civitas academica UGM, sehingga koleksi yang dihadirkan diharapkan semakin sesuai dengan kebutuhan pembelajaran, penelitian, dan pengabdian.
Berita
Mimpi menempuh pendidikan tinggi di luar negeri semakin terbuka lebar bagi mahasiswa Universitas Gadjah Mada. Melalui program Let’s Understand Better (LUB), Perpustakaan dan Arsip UGM berkolaborasi dengan Office of International Affairs (OIA) UGM menghadirkan Info Session Studi di Tunghai University, Taiwan, yang mempertemukan calon mahasiswa dengan akademisi internasional secara langsung.
Akses terhadap sumber ilmiah bereputasi menjadi kunci dalam menghasilkan riset berkualitas. Menjawab kebutuhan tersebut, Perpustakaan dan Arsip Universitas Gadjah Mada (UGM) menyelenggarakan Workshop E-Journal ProQuest sebagai Sumber Referensi Penelitian dan Karya Ilmiah untuk memperkuat kemampuan civitas academica dalam memanfaatkan basis data akademik global secara optimal.
Perpustakaan dan Arsip Universitas Gadjah Mada (UGM) menegaskan komitmennya dalam mencetak sumber daya manusia muda yang profesional dan berdaya saing melalui kegiatan pembekalan mahasiswa paruh waktu periode Februari-Desember 2026. Kegiatan ini menjadi langkah awal sebelum mahasiswa terjun langsung mendukung layanan perpustakaan dan kearsipan UGM.
Perpustakaan dan Arsip Universitas Gadjah Mada (UGM) menerima kunjungan edukatif dari MAN 1 Sragen yang terdiri atas siswa dan pegawai madrasah pada Kamis (29/1/2026). Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya penguatan literasi, pengenalan layanan perpustakaan perguruan tinggi, serta dukungan terhadap pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), khususnya SDGs ke-4 tentang Pendidikan Berkualitas dan SDGs ke-17 tentang Kemitraan untuk Mencapai Tujuan.
Sebuah buku tidak lahir dari ruang sunyi, melainkan dari perjumpaan gagasan lintas profesi yang terus diasah melalui dialog dan refleksi. Semangat inilah yang diusung Perpustakaan dan Arsip Universitas Gadjah Mada (UGM) melalui ArchiTalk & LibSpeak Special Event, sebuah forum diskusi daring yang kali ini mengulas proses kreatif di balik lahirnya buku “Masa Depan Pengetahuan: Transformasi Perpustakaan dan Arsip dalam Ekosistem Pengetahuan Baru”, Rabu (28/1/2026).
Forum Pustakawan Universitas Gadjah Mada (UGM) menyelenggarakan UGM LibSpeak 10, webinar nasional bertema “Otomatisasi Data Analytics dengan Artificial Intelligence untuk Pengembangan Layanan Perpustakaan: Perlukah?”, pada Selasa (27/1/2026) secara daring. Kegiatan ini diikuti 631 peserta yang terdiri atas pustakawan, akademisi, mahasiswa, dan praktisi dari berbagai daerah di Indonesia.
Menutup tahun 2025, Perpustakaan dan Arsip Universitas Gadjah Mada (UGM) menggelar pelepasan purna tugas bagi Joko Kristianto, petugas perpustakaan yang telah mengabdikan diri selama 28 tahun 7 bulan di UGM. Momen ini bukan sekadar seremoni perpisahan, melainkan penanda penting atas dedikasi panjang dalam menjaga keberlanjutan layanan pengetahuan di perguruan tinggi.
Program ini digagas sebagai upaya meningkatkan kemampuan staf agar semakin terasah saat berkomunikasi dengan seluruh pengguna, terutama pengguna internasional. Dipandu langsung oleh Safirotu Khoir, Ph.D., Koordinator Humas dan Urusan Internasional. Dengan pembawaan energik, ia memandu peserta berlatih bercakap-cakap tentang pekerjaan sehari-hari menggunakan bahasa Inggris.
“Let’s make English part of our daily vibe! Biar nanti kalau ketemu pengunjung internasional yang belum bisa berbahasa Indonesia, kita bisa langsung serve them confidently,” ujar Safirotu memotivasi peserta yang tampak siap berpetualang dengan kosa kata baru.
Pertemuan pertama berlangsung penuh kejutan. Para staf bergantian memperkenalkan tugas masing-masing, ada yang lancar, ada yang terbata tapi tetap percaya diri. Salah satunya Sarwono, yang tampil penuh semangat. “Deg-degan sih, tapi seru banget. Rasanya kayak balik jadi mahasiswa lagi!” katanya sambil tertawa, disambut tepuk tangan teman-teman.
Inisiatif ini bukan hanya soal belajar bahasa, tetapi juga langkah nyata Perpustakaan dan Arsip UGM mendukung Sustainable Development Goals (SDGs), terutama SDG 4 tentang pendidikan berkualitas dan SDG 16 tentang Perdamaian, Keadilan dan Kelembagaan yang Tangguh. Dengan kemampuan berbahasa yang semakin baik, staf diharapkan semakin siap melayani pengguna beragam latar belakang, dari Yogyakarta hingga mancanegara.
Ke depan, kelas ini akan menjadi agenda mingguan yang tak sekadar belajar, tetapi juga ruang bermain kata, mengasah keberanian, dan membangun suasana kerja yang lebih hidup. “Learning English isn’t just about grammar, it’s about connection,” ujar Safirotu menutup sesi pertama dengan penuh optimisme.
Jika pertemuan perdana saja sudah membuat peserta sumringah, bisa dibayangkan bagaimana pertemuan berikutnya. Suatu hari, jika bertandang ke Perpustakaan dan Arsip UGM dan mendapat sapaan:
“How can I help you today?”
Dua staf Perpustakaan dan Arsip Universitas Gadjah Mada (UGM), Dr. Herman Setyawan, M.Sc. dan Wasilatul Baroroh, S.S.I., resmi menerbitkan buku berjudul Masa Depan Pengetahuan: Transformasi Perpustakaan dan Arsip dalam Ekosistem Pengetahuan Baru melalui Penerbit Nasmedia pada Desember 2025. Karya ini hadir sebagai kontribusi pemikiran reflektif tentang bagaimana perpustakaan dan arsip harus bertransformasi di tengah percepatan digital dan perubahan ekologi pengetahuan global.
Buku ini memuat sepuluh bab dengan gagasan kuat tentang pergeseran paradigma pengelolaan informasi, dari berbasis material menuju era imaterial, dari ruang penyimpanan menuju ruang kolaborasi, serta dari pengelola dokumen menjadi kurator pengetahuan. Isinya mencakup isu strategis seperti metadata semantik, etika kecerdasan buatan, pelestarian arsip digital, green library, hingga perpustakaan sebagai ruang sosial dan arsip sebagai identitas kolektif bangsa.
“Perpustakaan dan arsip harus menjadi organisme pengetahuan yang hidup. Peran kita bukan lagi hanya menjaga koleksi, tetapi mengelola pengetahuan dengan cara yang inovatif, responsif, dan relevan,” ujar Dr. Herman Setyawan.
Penulis kedua, Wasilatul Baroroh, mengatakan bahwa buku ini diharapkan menjadi bacaan penting bagi para pustakawan, arsiparis, peneliti, hingga pembuat kebijakan. “Teknologi hanyalah alat. Di balik semua inovasi, manusialah yang menjadi kurator makna. Buku ini mencoba membuka pandangan akan masa depan profesi informasi yang lebih adaptif dan humanis,” tuturnya.
Karya tersebut mendapat apresiasi langsung dari Dr. Djoko Utomo, M.A., Honorary Member of SARBICA sekaligus Kepala ANRI periode 2004–2009. Dalam testimoninya ia menyebut, “Salah satu keistimewaan buku ini adalah retorikanya, yakni retorika yang mencerminkan diskursus pembaruan perpustakaan dan kearsipan di Indonesia. Ini merupakan buku yang sangat concise, padat dan berisi, dipenuhi teori serta gagasan mutakhir, didukung 269 referensi termasuk rujukan terbaru tahun 2025. Karya ini boleh dikatakan spektakuler dan sangat layak dibaca oleh pustakawan maupun arsiparis untuk menambah wawasan baru.”
Buku ini juga didukung oleh berbagai tokoh kearsipan dan perpustakaan seperti Prof. Dr. H. Nandang Alamsah Deliarnoor, S.H., S.A.P., M.Hum. (Ketua Umum Perkumpulan Arsip Perguruan Tinggi Indonesia/PAPTI), Dr. H. Andi Kasman, S.E., M.M. (Ketua Umum Asosiasi Arsiparis Indonesia/AAI), Ida Fajar Priyanto, Ph.D. (Dosen Sekolah Pascasarjana UGM), dan Hani Qonitah, S.S., M.IMS (Ketua Umum Perkumpulan Profesi Pengelola Rekod Indonesia/P3RI).
Keberadaan buku Masa Depan Pengetahuan menjadi penanda penting bahwa kontribusi pemikiran dapat lahir dari ruang kerja sehari-hari di perpustakaan dan arsip. Selain menjadi literatur akademik, ia juga memperkuat upaya pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya poin 4 mengenai Pendidikan Berkualitas dan poin 16 tentang Perdamaian, Keadilan, dan Kelembagaan yang Tangguh.
Lebih dari itu, buku ini mengingatkan bahwa teknologi dapat mempercepat data, tetapi manusialah yang menjaga makna. Di tengah derasnya arus digital, perpustakaan dan arsip tetap menjadi fondasi peradaban, ruang yang menyimpan memori, membangun pengetahuan, dan menuntun arah masa depan.
Kontributor: Wasilatul Baroroh