AI Bisa Bantu Nulis Paper, Tapi Jangan Sampai Mengambil Alih Peneliti

Artificial Intelligence (AI) semakin banyak dimanfaatkan dalam proses penelitian, mulai dari mencari referensi, merangkum artikel ilmiah, hingga membantu menyusun draft tulisan. Meski demikian, penggunaan AI tetap memerlukan batasan yang jelas. Teknologi dapat membantu mempercepat pekerjaan peneliti, tetapi tidak boleh menggantikan analisis, penalaran, maupun tanggung jawab akademik penulis.

Pemanfaatan AI secara etis dalam penelitian menjadi topik utama workshop “Publish Papers with AI Tools? How to Ethically Do It?” yang diselenggarakan Perpustakaan dan Arsip Universitas Gadjah Mada (UGM) secara daring, Kamis (25/6).

Membuka kegiatan tersebut, Kepala Perpustakaan dan Arsip UGM, Arif Surachman, SIP., MBA., menegaskan bahwa akses terhadap sumber informasi ilmiah yang kredibel merupakan pondasi penting dalam menghasilkan penelitian berkualitas. Ia menjelaskan bahwa EBSCO telah lama menjadi bagian dari layanan sumber informasi elektronik di UGM dan terus mengembangkan berbagai fitur yang mendukung kebutuhan riset, termasuk melalui pemanfaatan teknologi AI.

“EBSCO telah berkembang menjadi platform yang mendukung berbagai kebutuhan penelitian. Kehadiran AI Tools memberi peluang bagi peneliti untuk bekerja lebih efektif, tetapi kita juga perlu memahami cara menggunakannya secara etis agar kualitas dan integritas penelitian tetap terjaga,” ujar Arif.

Workshop yang dimoderatori oleh Safirotu Khoir, Ph.D. tersebut menghadirkan Ryan Salas, Training Specialist Southeast Asia EBSCO, yang memperkenalkan berbagai fitur terbaru pada platform EBSCO untuk mendukung proses pencarian dan pengelolaan literatur ilmiah. Dalam sesi demonstrasinya, Ryan menunjukkan cara memanfaatkan Academic Search Complete (ASC) dan Business Source Complete (BSC) secara lebih efektif melalui berbagai teknik penelusuran, mulai dari penggunaan limiters, special limiters, field codes, hingga natural language search yang memungkinkan pengguna mencari informasi menggunakan bahasa sehari-hari.

Selain itu, peserta juga diperkenalkan dengan berbagai fitur berbasis AI yang tersedia di EBSCO. Salah satunya adalah AI Insights yang dapat membantu pengguna memperoleh ringkasan poin-poin penting dari artikel ilmiah secara lebih cepat. Ryan menekankan bahwa fitur tersebut dirancang untuk membantu proses eksplorasi literatur dan memahami isi artikel, sementara proses analisis, interpretasi, serta pengambilan keputusan akademik tetap menjadi tanggung jawab peneliti.

Sesi diskusi berlangsung interaktif dengan berbagai pertanyaan dari peserta, mulai dari perbandingan penggunaan AI di EBSCO dengan platform AI populer lainnya, potensi terbentuknya filter bubble dalam pencarian informasi, hingga pemanfaatan fitur kolaborasi dan pengelolaan akun MyEBSCO. Peserta juga memperoleh pendampingan terkait akses basis data EBSCO melalui jaringan dan EZproxy UGM.

Perkembangan AI yang semakin cepat ikut mengubah cara orang mencari dan mengolah informasi. Menyikapi perubahan tersebut, Perpustakaan dan Arsip UGM terus menghadirkan layanan yang membantu civitas academica beradaptasi, mulai dari penyediaan akses ke sumber informasi ilmiah hingga pelatihan pemanfaatan AI dalam penelitian. Dengan begitu, teknologi dapat dimanfaatkan untuk mendukung proses riset, sementara kualitas, integritas, dan etika akademik tetap menjadi prioritas. 

Melalui workshop ini, Perpustakaan dan Arsip UGM mendorong lahirnya peneliti yang tidak hanya cakap memanfaatkan teknologi, tetapi juga mampu menjaga kualitas, orisinalitas, dan kredibilitas karya ilmiahnya. Upaya ini sejalan dengan Sustainable Development Goals (SDGs) 4 (Pendidikan Berkualitas) melalui penguatan literasi digital, serta SDGs 9 (Industri, Inovasi, dan Infrastruktur) yang mendukung pemanfaatan inovasi untuk memperkuat ekosistem riset.

Sebab pada akhirnya, AI memang bisa membantu menemukan jawaban. Namun, rasa ingin tahu, kemampuan berpikir kritis, dan integritas tetap menjadi hal yang tidak bisa digantikan oleh mesin.

Kontributor: Wasilatul Baroroh