Bayangkan sedang mencari arah penelitian dari ratusan jurnal. Satu artikel membuka jalan ke artikel lain. Dari satu kata kunci muncul puluhan topik. Belum lagi nama penulis, sitasi, dan daftar referensi yang terus bercabang.
Kalau semuanya dibaca satu per satu, kapan selesainya?
Pertanyaan itulah yang menjadi salah satu alasan pentingnya kemampuan membaca lanskap penelitian. Melalui Science Mapping, kumpulan publikasi yang begitu besar dapat diolah menjadi peta untuk membantu melihat topik yang berkembang, hubungan antartopik, jaringan kolaborasi, hingga arah perkembangan suatu bidang penelitian.
Cara membaca lanskap penelitian tersebut diperkenalkan Perpustakaan dan Arsip UGM melalui Workshop Literasi Serial Systematic Literature Review: Science Mapping Using Bibliometric Analysis, Senin (21/9). Kegiatan yang berlangsung secara hybrid ini menghadirkan Dr. Purwani Istiana, M.A., Pustakawan Madya UGM, sebagai narasumber, dengan Ratna Setyawati, S.I.P., Pustakawan UGM, sebagai moderator.
Membuka kegiatan, Arif Surachman, SIP., MBA., Kepala Perpustakaan dan Arsip UGM, menekankan pentingnya kegiatan literasi seperti ini bagi civitas academica, terutama dalam mendukung proses penelitian. Ia berharap pengetahuan yang diperoleh peserta dapat membantu mereka memahami dan memanfaatkan literatur ilmiah dengan lebih efektif.
“Semoga kegiatan ini dapat memberikan manfaat dan membantu civitas academica UGM dalam melaksanakan penelitian, terutama dalam memahami dan memanfaatkan berbagai literatur ilmiah secara lebih efektif,” ujar Arif.
Harapan tersebut kemudian dijawab melalui sesi yang membawa peserta mengenal cara mengubah tumpukan publikasi menjadi informasi yang lebih mudah dibaca. Purwani Istiana menjelaskan bahwa Science Mapping bukan sekadar gambar atau grafik, melainkan cara untuk menggambarkan struktur dan perkembangan pengetahuan dalam suatu bidang penelitian.
Dari sebuah science map, peneliti dapat melihat hal-hal yang mungkin sulit ditemukan ketika artikel dibaca satu per satu, seperti topik mana yang sering muncul, tema apa yang saling berkaitan, siapa saja yang membangun kolaborasi, hingga penelitian seperti apa yang mulai berkembang.
“Science mapping membantu kita melihat lanskap penelitian. Dari data publikasi yang besar, kita bisa melihat topik apa yang berkembang, bagaimana keterkaitan antartopik, hingga jaringan kolaborasi yang terbentuk,” jelas Purwani.
Lantas, dari mana peta itu dibuat?
Di sinilah Bibliometric Analysis berperan. Metode ini digunakan untuk mengolah data publikasi ilmiah, mulai dari penulis, kata kunci, sitasi, hingga referensi, guna menemukan pola dan hubungan di antara data tersebut. Hasil analisis tersebut kemudian dapat divisualisasikan sebagai science map.
Data publikasi tersebut dapat ditelusuri melalui berbagai basis data ilmiah, seperti Scopus, Web of Science, dan sumber lainnya, sesuai dengan kebutuhan penelitian. Setelah data publikasi diperoleh, data tersebut perlu disiapkan dan dianalisis untuk menemukan pola yang relevan. Hasil analisis kemudian dapat divisualisasikan sebagai science map.
Sederhananya, Bibliometric Analysis membantu menemukan pola dari data publikasi, sedangkan Science Mapping membantu menampilkan pola tersebut dalam bentuk peta yang lebih mudah dibaca.
Dalam workshop, peserta dikenalkan dengan berbagai teknik untuk melihat lanskap penelitian dari sudut pandang yang berbeda. Ada co-authorship analysis untuk melihat jaringan kolaborasi antarpeliti. Kemudian co-occurrence analysis memetakan kata kunci yang sering muncul bersama sehingga tema dan klaster penelitian dapat terlihat.
Peserta juga diperkenalkan dengan bibliographic coupling yang menghubungkan publikasi berdasarkan referensi yang sama; citation analysis yang melihat publikasi berdasarkan jumlah sitasi; serta co-citation analysis yang membantu melihat referensi yang sering dikutip secara bersamaan.
Setiap teknik membawa pertanyaan yang berbeda. Jika ingin melihat siapa yang berkolaborasi dengan siapa, gunakan fitur co-authorship. Jika ingin menemukan tema yang saling berkaitan, co-occurrence dapat digunakan. Jika ingin melihat fondasi atau struktur intelektual suatu bidang, bibliographic coupling dan co-citation dapat memberikan perspektif yang berbeda.
Dengan begitu, science map tidak hanya menjadi visualisasi yang menarik. Peta tersebut dapat membantu peneliti membaca state of the art, menemukan emerging topics, mengetahui posisi suatu penelitian, sekaligus melihat peluang riset dan kolaborasi.
“Peta yang dihasilkan bukan sekadar visualisasi. Kita bisa menggunakannya untuk memahami state of the art, melihat emerging topics, mengetahui posisi penelitian, dan menemukan peluang riset maupun kolaborasi,” tambah Purwani.
Agar proses pemetaan berjalan lebih optimal, peserta juga dikenalkan dengan dua tools yang digunakan dalam workflow science mapping, yaitu OpenRefine dan VOSviewer. Sebelum divisualisasikan, data publikasi perlu dibersihkan dan dirapikan. OpenRefine dapat digunakan pada tahap tersebut untuk membantu menata dataset agar lebih konsisten.
Setelah data siap, VOSviewer digunakan untuk membuat visualisasi jaringan dan science map. Data yang sebelumnya terlihat seperti kumpulan informasi dapat berubah menjadi jaringan yang memperlihatkan hubungan antarkata kunci, peneliti, publikasi, dan referensi.
Dari sini, ribuan publikasi tidak lagi sekadar menjadi daftar panjang artikel. Data mulai membentuk pola. Pola membentuk hubungan. Dan hubungan tersebut membantu peneliti melihat gambaran yang lebih luas tentang bidang yang sedang diteliti.
Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya Perpustakaan dan Arsip UGM untuk memperkuat literasi penelitian dan membantu sivitas akademika memanfaatkan teknologi dalam mengolah informasi ilmiah. Upaya tersebut sejalan dengan Sustainable Development Goals (SDGs) 4: Pendidikan Berkualitas, melalui penguatan pengetahuan dan keterampilan penelitian, serta SDG 9: Industri, Inovasi, dan Infrastruktur, melalui pemanfaatan teknologi dan metode analisis data untuk mendukung inovasi dalam penelitian.
Kontributor: Wasilatul Baroroh