Bayangkan sedang mencari arah penelitian dari ratusan jurnal. Satu artikel membuka jalan ke artikel lain. Dari satu kata kunci muncul puluhan topik. Belum lagi nama penulis, sitasi, dan daftar referensi yang terus bercabang.
SDG 9: Industri Inovasi dan Infrastruktur
Apa yang membuat sebuah artikel ilmiah enak dibaca dan kuat secara akademik? Jawabannya tidak berhenti pada banyaknya referensi atau data yang dimiliki. Ada alur yang harus bekerja dari awal hingga akhir, membawa pembaca memahami persoalan, mengikuti proses penelitian, hingga menangkap makna sebuah temuan.
Citra perpustakaan sebagai “ruang sunyi tempat menyimpan buku” pelan-pelan mulai terkikis. Menjawab perubahan gaya belajar mahasiswa era digital, pimpinan Perpustakaan Institut Teknologi Bandung (ITB) bertandang ke Universitas Gadjah Mada (UGM) pada Kamis (10/9/2026) untuk diskusi soal pengelolaan fisik perpustakaan dan pengembangan Co-Working Space (CWS).
AI bisa mempercepat riset. Tapi apakah kita boleh sepenuhnya mempercayainya? Pertanyaan krusial ini mengemuka di tengah maraknya penggunaan kecerdasan buatan dalam lanskap akademik, yang kini menjadi pisau bermata dua bagi kredibilitas dunia ilmiah.
Media sosial telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari, tidak hanya sebagai sarana berkomunikasi dan memperoleh informasi, tetapi juga sebagai ruang untuk membangun relasi, personal branding, hingga menunjang aktivitas pendidikan dan pekerjaan. Kondisi tersebut membuat pemahaman mengenai etika dan tanggung jawab dalam bermedia sosial menjadi semakin penting. Hal tersebut menjadi fokus Talkshow dan Bedah Buku bertema “Etika Bermedia Sosial di Era Digital” yang merupakan bagian dari rangkaian acara “Deepublish Store Goes to UGM” yang diselenggarakan Perpustakaan dan Arsip Universitas Gadjah Mada (UGM) berkolaborasi dengan Deepublish Store Rabu (26/8) secara luring.
Satu per satu judul masuk dalam daftar usulan. Ada yang berkaitan dengan agama, hukum, kesehatan, hingga bisnis. Jumlahnya terus bertambah, sampai akhirnya terkumpul 296 judul. Daftar tersebut bukan daftar bacaan biasa. Di balik daftar itu, ada gambaran tentang bahan bacaan yang sedang dicari civitas academica UGM.
Penelitian sudah selesai, data sudah terkumpul, dan manuskrip sudah ditulis. Namun, satu pertanyaan masih menunggu jawaban: apa yang membuat sebuah manuskrip layak diterima jurnal internasional? Jawabannya tidak berhenti pada kualitas hasil penelitian. Cara membangun cerita ilmiah, menyajikan bukti, memilih jurnal, hingga merespons komentar reviewer turut menentukan perjalanan sebuah manuskrip menuju publikasi.
Publikasi ilmiah tidak berhenti ketika sebuah artikel berhasil diterbitkan. Seberapa jauh penelitian dibaca, dikutip, dan memberi pengaruh di lingkungan akademik menjadi bagian penting yang perlu dipahami peneliti. Karena itu, kemampuan mengukur dan memantau research impact menjadi semakin penting dalam pengembangan ekosistem riset. Hal tersebut menjadi fokus Workshop Research Smarter Series #2: Measure, Track, and Elevate Your Research Impact with Scopus yang diselenggarakan Perpustakaan dan Arsip Universitas Gadjah Mada (UGM), Rabu (19/8) secara daring.
Kimpul yang belakangan ramai diperbincangkan di media sosial ternyata bukan sekadar bahan pengganti dalam kreasi masakan. Di balik kepopulerannya, umbi lokal ini telah menjadi objek penelitian di Universitas Gadjah Mada (UGM) selama lebih dari tiga dekade. Penelusuran melalui Electronic Theses and Dissertations (ETD) Perpustakaan dan Arsip UGM menemukan sedikitnya lima penelitian yang mengkaji kimpul dari beragam perspektif, mulai dari sifat fungsional, modifikasi pati, mikroenkapsulasi, hingga pengembangan kemasan pangan.
Kebutuhan informasi sivitas akademika terus menjadi pertimbangan dalam pengembangan koleksi Perpustakaan dan Arsip Universitas Gadjah Mada (UGM). Untuk memastikan koleksi yang tersedia tetap sesuai dengan kebutuhan tersebut, Perpustakaan dan Arsip UGM meninjau kembali Kebijakan Pengembangan Koleksi tahun 2026.