Rawat Akarnya, Tunggu Bunganya: Belajar Bertumbuh dari Anggrek Bulan (Phalaenopsis)

Bunga Anggrek Bulan (Phalaenopsis) mengajarkan bahwa pertumbuhan tidak selalu langsung terlihat. Sebelum bunga mekar, tanaman terlebih dahulu membutuhkan akar yang kuat, perawatan yang konsisten, dan waktu yang cukup untuk berkembang. Filosofi tersebut menjadi refleksi dalam Sarasehan Rutin Awal Bulan yang diselenggarakan Perpustakaan dan Arsip Universitas Gadjah Mada (UGM), Jumat (2/10/2026).

Kegiatan yang merupakan agenda rutin setiap awal bulan tersebut berlangsung di Ruang Co-Working Space BNI, Gedung L7 Lantai 1. Pada sesi kali ini, kegiatan diisi oleh Bidang Data dan Sistem Informasi yang diwakili oleh Pustakawan UGM, Roh Wahyu Widayati, S.I.Pust., melalui sesi berbagi bertajuk “Rawat Akarnya, Tunggu Bunganya: Belajar Bertumbuh dari Anggrek Bulan.”

Dalam pemaparannya, Roh Wahyu mengajak peserta melihat proses pertumbuhan anggrek sebagai gambaran perjalanan seseorang dalam membangun kompetensi dan menjalani kehidupan. Menurutnya, tidak munculnya bunga dalam waktu tertentu bukan berarti tanaman tersebut berhenti tumbuh. Di balik permukaan media tanam, akar dapat terus berkembang dan memperkuat diri sebagai pondasi bagi pertumbuhan berikutnya.

“Akar yang sehat adalah pondasi utama bagi seluruh pertumbuhan. Di dalam dunia kerja maupun kehidupan personal, kompetensi, integritas, kedisiplinan, serta semangat untuk terus belajar adalah ‘akar’ yang menopang setiap pencapaian kita,” ujar Roh Wahyu.

Ia menambahkan, proses membangun pondasi sering kali tidak langsung terlihat dan belum tentu segera mendapatkan apresiasi. Namun, justru proses tersebut yang menentukan seberapa kuat seseorang menghadapi tantangan dan memanfaatkan kesempatan ketika waktunya tiba.

Refleksi tersebut kemudian dikaitkan dengan cara merawat Anggrek Bulan. Tanaman membutuhkan air dan nutrisi yang cukup, tetapi pemberian secara berlebihan justru dapat merusak akar. Bagi Roh Wahyu, hal tersebut menjadi pengingat bahwa proses pertumbuhan juga membutuhkan keseimbangan. Tidak semua hal dapat dipercepat, dan tidak seluruh keadaan dapat dikendalikan.

“Kita merawat akarnya dengan ikhtiar, menjalani proses dengan sabar, dan menunggu bunganya dengan tawakal. Tugas kita adalah memberikan nutrisi terbaik, menjaga integritas, dan konsisten belajar. Namun, kapan ‘bunga’ itu mekar adalah bagian dari kehendak Tuhan YME,” lanjutnya.

Dalam kegiataan ini, Roh Wahyu juga memberikan pengalaman praktis kepada peserta melalui demonstrasi perawatan tanaman. Peserta diperkenalkan pada pembuatan pupuk organik cair sederhana untuk membantu merangsang pertumbuhan akar dengan memanfaatkan air beras dan irisan bawang merah. Sesi tersebut juga dilengkapi dengan panduan pengendalian hama secara terukur.

Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya Perpustakaan dan Arsip UGM dalam membangun lingkungan kerja yang mendukung pembelajaran dan pengembangan kapasitas karyawan. Semangat tersebut sejalan dengan Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 4 tentang Pendidikan Berkualitas melalui penguatan budaya belajar sepanjang hayat, SDG 8 tentang Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi melalui pengembangan kapasitas serta lingkungan kerja yang produktif, dan SDG 15 tentang Ekosistem Daratan melalui pengenalan praktik sederhana yang mendukung kepedulian terhadap lingkungan.

Melalui sarasehan rutin ini, pembelajaran di lingkungan Perpustakaan dan Arsip UGM tidak berhenti pada pengetahuan yang berkaitan langsung dengan pekerjaan. Beragam pengalaman dan refleksi juga menjadi ruang untuk membangun karakter, memperkuat hubungan antarkaryawan, serta melihat proses kerja dari perspektif yang lebih luas.

Seperti Anggrek Bulan yang membutuhkan waktu sebelum akhirnya memperlihatkan bunganya, setiap proses yang dirawat dengan konsisten membutuhkan kesabaran sebelum hasilnya terlihat. Rawat akarnya, jalani prosesnya, dan biarkan hasilnya berbicara pada waktunya.

Kontributor: Wasilatul Baroroh