Betulkah yang diperlukan layanan perpustakaan hanyalah layanan buku? Perlukah untuk menemukan aspek-aspek lain dalam meningkatkan nilai jiwa perpustakaan itu sendiri? Pertanyaan itu dijawab dalam Sharing Session dan Diskusi buku “Mengusahakan Pertolongan Ilahi” yang diselenggarakan pada CollabHub by Paragon, Gedung Inovasi dan Kreativitas (GIK) UGM Kamis, (27/8). Acara ini mendiskusikan langsung nilai-nilai yang dipegang kukuh oleh Nurhayati Subakat dan sepak terjang Paragon Corporation sedari dulu kala melalui buku Mengusahakan Pertolongan Ilahi. Sekaligus pula merayakan momen kehangatan pada para purnakarya Perpustakaan dan Arsip UGM dengan memberikan kenang-kenangan.
Dalam sambutan oleh Kepala Perpustakaan dan Arsip UGM, Arif Surachman, SIP., MBA., beliau menyampaikan Perpustakaan dan Arsip UGM antusias dalam kolaborasi antara Paragon, GIK, serta Perpustakaan dan Arsip UGM. “Kami sangat mengapresiasi kolaborasi hangat bersama Paragon Corp yang memberikan dimensi baru bagi layanan perpustakaan UGM. Sinergi ini membuktikan bahwa perpustakaan bisa menjadi ruang tumbuh yang utuh, mengintegrasikan literasi intelektual, kewirausahaan, hingga ketenangan spiritual,” ujar Arif. Selanjutnya, sesi berlanjut dengan penyerahan kenang-kenangan dengan purnakarya, yakni Joko Kristianto, Peni Bektiningsih, Ngesti Gandini, Sri Utami, dan Ismulyana.
Dalam sesi diskusi buku tersebut, Keynote Speaker Susana Nur Kusumaningsih dari PT Paragon Technology and Innovation (Paragon Corp) menerangkan bahwa perpustakaan modern tidak lagi sebatas ruang peminjaman buku semata, tetapi dapat juga sebagai ruang tumbuh dinamis yang mengintegrasikan edukasi kewirausahaan, spiritualitas, dan personal well-being. Gagasan ini mengemuka seiring selebrasi 40 tahun perjalanan Paragon Corp yang diabadikan melalui novel karya A. Fuadi dan diadaptasi ke layar lebar oleh Wahana Kreator di bawah arahan sutradara Gina S. Noer serta Kurnia Cahya Putra. Lewat kisah hidup Nurhayati Subakat dalam “Mengusahakan Pertolongan Ilahi”, perpustakaan dapat membuktikan perannya sebagai ruang penanam nilai kepemimpinan dan penguat jiwa bagi masyarakat.
Diskusi ini menyingkap perjalanan bersahaja pendiri Paragon dari skala industri rumahan. Berawal dari dua karyawan yang memasarkan produk secara door-to-door, perintisan usaha tersebut diwarnai keterbatasan modal dan sumber daya manusia. Namun, keberanian serta tekad pantang menyerah terbukti mampu melampaui hambatan materiil. Pemaparan rekam jejak ini memperkaya fungsi layanan perpustakaan sebagai wadah pembelajaran mental kewirausahaan dan pemantik daya tahan diri (resilience) bagi para pembelajar.
Aspek spiritualitas dan personal well-being terpancar kuat saat mendiskusikan titik balik perusahaan di tengah krisis besar yang nyaris menghentikan operasional bisnis. Keyakinan akan pertolongan Ilahi melalui doa dan kepasrahan yang tulus menjadi penentu utama keberlanjutan usaha. Integrasi nilai keikhlasan ini memberikan dimensi baru dalam ruang perpustakaan: bahwa kesejahteraan jiwa seorang wirausahawan tidak hanya ditopang oleh strategi komersial, melainkan juga ketenangan spiritual saat menghadapi tekanan hidup.
Keberanian bertransformasi tersebut kini melahirkan portofolio produk nasional yang luas, melingkupi Wardah, Make Over, Emina, Kahf, Putri, Crystallure, Instaperfect, Laboré, Biodef, Tavi, Wonderly, Beyondly, Earth Love Life, hingga Oh My Glam (OMG). Lebih dari sekadar kesuksesan komersial, Nurhayati Subakat menanamkan filosofi endless goodness yang sejalan dengan misi sosial perpustakaan dalam memberdayakan masyarakat melalui empat pilar keberlanjutan, yakni Pendidikan, Kesehatan, Pemberdayaan Perempuan, dan Pelestarian Lingkungan.

Dengan filsosofi endless goodness ini, Nurhayati Subakat menanamkan filosofi yang sejalan dengan misi sosial perpustakaan dan agenda pembangunan berkelanjutan (SDGs) melalui berbagai kontribusi nyata, yakni pendidikan berkualitas (SDG 4: Quality Education) yang berinvestasi pada program edukasi, penyediaan beasiswa, penguatan literasi perpustakaan, serta pengembangan pusat pembelajaran komunitas. Kemudian, sejalan pula dengan filosofi pemberdayaan perempuan, program peningkatan kapasitas dan keterampilan kerja secara inklusif agar perempuan Indonesia semakin mandiri dan berdaya setara dengan Kesetaraan Gender (SDG 5: Gender Equality). Filsosofi kesehatan pun sejalan dengan Kesehatan dan Kesejahteraan (SDG 3: Good Health and Well-being) karena mengedukasi pola hidup sehat, perluasan akses layanan kesehatan masyarakat kurang mampu, serta penguatan personal well-being dan ketahanan mental.
Melalui rangkaian diskusi ini, perpustakaan membuktikan bahwa fungsinya telah bertransformasi menjadi ruang inklusif yang merawat aspek spiritualitas, kewirausahaan, hingga personal well-being masyarakat, jauh melampaui deretan rak buku konvensional. Momen penuh inspirasi ini ditutup dengan sesi tanya jawab yang berlangsung dengan hangat dan edukatif, mengukuhkan komitmen bersama untuk terus menebar nilai kebaikan dan semangat pantang menyerah dalam setiap ruang pengabdian
Kontributor: Zulfanisa Nur Isnaini