Mengapa seorang konsumen yang selama bertahun-tahun setia pada satu produk tiba-tiba memutuskan untuk berpindah ke lain hati? Fenomena sensitif namun krusial dalam lanskap bisnis modern inilah yang menjadi sorotan utama dalam acara Bedah Buku dan Diskusi Bersama UGM Press bertajuk “Brand Switching Dynamics”, yang digelar secara hybrid di Ruang Seminar Perpustakaan dan Arsip Universitas Gadjah Mada (UGM) pada Rabu (21/10/2026).
Sebagai pusat ilmu pengetahuan, Perpustakaan dan Arsip UGM menginisiasi gelaran ini untuk mengupas realitas empiris dinamika perilaku konsumen serta implikasi strategisnya bagi iklim industri modern.
Dalam pengantarnya, Kepala Perpustakaan dan Arsip UGM, Arif Surachman, SIP., MBA, menegaskan pentingnya kolaborasi literasi akademik dengan isu komersial yang dinamis, seperti persaingan merek mie instan di Indonesia. Melalui panggung ilmiah ini, pihak perpustakaan berkomitmen terus memfasilitasi ruang diskusi produktif yang memberikan kontribusi positif bagi masyarakat.
Senada dengan hal tersebut, perwakilan tim penulis, Prof. Dr. Jangkung Handoyo Mulyo, S.P., M.Ec., menggarisbawahi peran sentral perpustakaan dalam ekosistem perguruan tinggi. “Kalau datang ke perguruan tinggi lihatlah perpustakaannya (wajah sebuah universitas),” tuturnya di hadapan para peserta.
Penulis utama buku sekaligus praktisi dengan pengalaman 23 tahun di perusahaan multinasional, Dr. Sunardi Widosiharjo, S.T.P., M.Agr., memaparkan bahwa fenomena brand switching bukan sekadar angka statistik perpindahan konsumen, melainkan pertanda dinamika pasar yang terus bergerak.
“Konsumen yang tidak puas itu menjadi sumber pembelajaran,” ungkap Dr. Sunardi. Beliau juga menegaskan strategi utama dalam memenangkan pasar. “Merek harus merebut konsumen baru sekaligus mempertahankan konsumen lama agar tidak berpindah,” paparnya.
Lebih lanjut, Dr. Sunardi menyampaikan pesan pendorong dalam memahami preferensi publik. “Memahami perpindahan merek bukan hanya soal memilih merek apa, namun mengetahui tentang siapa, mengapa, dan dalam konteks apa,” serta mengingatkan bahwa “Dibalik angka perpindahan merek, ada pola perilaku yang bisa dan perlu dibaca”. Beliau menegaskan kembali esensi dari buku ini, bahwa “Brand Switching Dynamics” bukan hanya cerita tentang konsumen yang pergi, melainkan sinyal bahwa pasar sedang berubah.
Sementara itu, pakar ekonomi UGM, Amirullah Setya Hardi, S.E., Cand.Oecon., Ph.D., bertindak sebagai pembedah dan memberikan wawasan komprehensif dari sudut pandang ekonomi pasar, khususnya pada industri produk olahan seperti Growing Up Milk (GUM) dan konsumsi formulasi bayi. Amirullah menyoroti aspek ketatnya Peraturan BPOM 13/2023, bentuk persaingan monopolistik, hingga perbedaan mendasar antara hilangnya pelanggan (churn) dan perpindahan merek (brand switching).
Sesi diskusi interaktif yang dipandu oleh moderator Safirotu Khoir, Ph.D., Koordinator Humas dan Urusan Internasional Perpustakaan dan Arsip UGM. Berbagai pertanyaan dilayangkan peserta, mulai dari strategi pemulihan kepercayaan merek pasca-kekecewaan konsumen, fenomena variety seeking, tantangan penyesuaian harga dan kualitas bagi UMKM, hingga strategi brand stretching.
Penyelenggaraan bedah buku oleh Perpustakaan dan Arsip UGM ini juga menjadi wujud nyata kontribusi akademis terhadap pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs). Melalui panggung literasi ilmiah ini, perpustakaan mendukung SDGs 4, Pendidikan Berkualitas dengan menyediakan akses pengetahuan bermutu dan ruang diskusi berbasis riset empiris bagi publik. Selain itu, pembahasan strategi perilaku konsumen turut menguatkan SDGs 8, Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi bagi panduan ketahanan bisnis UMKM dan industri, sekaligus mendorong SDGs 12, Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab lewat penekanan kepatuhan regulasi produk serta etika pemenuhan hak konsumen.
Dinamika pergerakan pasar modern membuktikan bahwa loyalitas konsumen bukanlah sesuatu yang absolut, melainkan hubungan dinamis yang menuntut konsistensi, empati, dan pengembangan berkelanjutan dari para produsen. Ketika sebuah merek mengabaikan suara konsumen, ia tidak hanya kehilangan pembeli, tetapi juga kehilangan arah relevansi masa depan. Akankah para pelaku industri dan UMKM kita mampu membaca sinyal-sinyal perubahan ini secara tanggap, ataukah mereka pasrah membiarkan pasar berpindah ke lain hati?
Kontributor: Mukhammad Ramadhani Abdul Kafy