Navigasi Riset Era Digital: Perpustakaan dan Arsip UGM dan Sage Publications Bekali Peneliti Strategi Publikasi Ilmiah

Satu kesalahan dalam memilih metode penelitian atau menentukan jurnal sasaran dapat membuat perjalanan sebuah riset berbelok jauh dari tujuan. Bagi peneliti, persoalan itu bahkan bisa berujung pada penolakan manuskrip sebelum masuk ke proses review atau desk rejection.

Tantangan semacam itu menjadi perhatian Perpustakaan dan Arsip Universitas Gadjah Mada (UGM) bersama Sage Publications. Keduanya mempertemukan akademisi dalam workshop “Strengthening Research Ecosystem with Sage Publications” yang digelar secara daring, Jumat (11/9), untuk membahas strategi mengelola riset hingga mempublikasikannya ke jurnal bereputasi internasional.

Kepala Perpustakaan dan Arsip UGM, Arif Surachman, SIP., MBA., saat membuka kegiatan menekankan pentingnya memanfaatkan sumber informasi yang telah tersedia di lingkungan UGM. Menurutnya, akses terhadap basis data ilmiah bukan sekadar fasilitas, tetapi bagian dari upaya membangun ekosistem akademik yang mendukung proses belajar dan penelitian.

“Kami mengajak seluruh civitas academica UGM untuk aktif mengeksplorasi dan memanfaatkan pangkalan data yang telah kita langgan, seperti Sage Journals dan Sage Research Methods. Kehadiran basis data ini disiapkan untuk membantu proses belajar dan penelitian civitas academica UGM,” tegas Arif.

Pesan tersebut kemudian berlanjut pada sesi utama yang menghadirkan Mutiara Choiriyah, Senior Library Sales Executive Sage Publishing. Ia mengajak peserta melihat proses penelitian secara lebih utuh, dari saat sebuah ide muncul, bagaimana menentukan metode yang tepat, hingga memilih jalur publikasi yang sesuai.

Menurut Mutiara, persoalan dalam penelitian sering kali bukan terletak pada kurangnya informasi, melainkan pada cara peneliti menavigasi informasi tersebut. Dua hal yang kerap menjadi persoalan adalah pemilihan uji statistik yang tidak sesuai dengan karakteristik data dan keputusan memilih jurnal yang dilakukan tanpa pertimbangan yang cukup.

“Mengerjakan riset itu perlu tahu alur yang benar agar tidak melenceng di tengah jalan. Setiap tahap melakukan riset ada tantangannya masing-masing. Kuncinya cuma satu yakni pakai panduan dan tools yang pas dari awal,” ujar Mutiara.

Untuk membantu peneliti melewati setiap tahapan tersebut, Mutiara memperkenalkan dua platform utama Sage dengan fungsi yang berbeda, tetapi saling melengkapi.

SAGE Research Methods diperkenalkan sebagai semacam “bengkel riset” atau learning platform. Di dalamnya tersedia berbagai panduan dan instrumen interaktif untuk membantu peneliti menyusun proses penelitian secara lebih terarah. Salah satunya Project Planner, yang dapat digunakan untuk merencanakan tahapan penelitian dan penulisan sejak awal. Ada pula Which Stats Test yang membantu menentukan jenis uji statistik berdasarkan karakteristik data dan kebutuhan penelitian.

Setelah riset tersusun, tantangan berikutnya adalah menemukan ruang publikasi yang tepat. Pada tahap ini, SAGE Journals berperan sebagai publishing platform sekaligus sumber referensi ilmiah yang dapat dimanfaatkan peneliti untuk menelusuri dan mengakses ratusan ribu artikel penelitian dari berbagai bidang keilmuan. 

Sage juga menyediakan sejumlah fitur untuk membantu peneliti menavigasi proses publikasi. Sage Path dan Journal Recommender, misalnya, dapat membantu mengidentifikasi jurnal yang relevan sekaligus mendukung proses article transfer ke lebih dari 400 jurnal bereputasi tanpa biaya pengiriman artikel melalui fitur tersebut.

Perjalanan sebuah artikel tidak berhenti ketika naskah berhasil dipublikasikan. Peneliti juga perlu mengetahui seberapa jauh karya tersebut mendapat perhatian setelah berada di ruang publik. Dalam sesi tersebut, peserta diperkenalkan dengan Altmetrics, instrumen yang dapat menunjukkan perhatian daring terhadap sebuah artikel secara real-time.

Rangkaian materi tersebut memperlihatkan bahwa perjalanan riset di era digital semakin membutuhkan kemampuan untuk memilih sumber, membaca data, menentukan metode, hingga mengambil keputusan publikasi secara tepat. Teknologi dan basis data dapat menyediakan beragam pilihan, tetapi peneliti tetap menjadi penentu arah dari setiap pilihan tersebut.

Upaya memperkuat kapasitas tersebut juga sejalan dengan pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 4 tentang Pendidikan Berkualitas melalui peningkatan literasi data dan kualitas penelitian. Kolaborasi UGM dan Sage Publications sekaligus mencerminkan SDG 17 tentang Kemitraan untuk Mencapai Tujuan, melalui sinergi perguruan tinggi dan penerbit global dalam memperluas akses terhadap pengetahuan serta mendukung diseminasi hasil riset ke tingkat internasional.

Pada akhirnya, kualitas sebuah penelitian tidak hanya ditentukan oleh bagaimana sebuah riset selesai dikerjakan. Perjalanan sejak menemukan ide, memilih metode, membaca data, hingga menentukan tempat publikasi turut menentukan seberapa jauh pengetahuan yang dihasilkan dapat dipercaya.

Di tengah semakin luasnya akses terhadap sumber informasi digital, tantangannya kini bukan lagi sekadar menemukan informasi. Tantangannya adalah tahu mana yang tepat, bagaimana menggunakannya, dan ke mana pengetahuan itu akan dibawa.

Kontributor: Wasilatul Baroroh