Menunggu waktu berbuka puasa atau ngabuburit biasanya identik dengan berburu kuliner di luar. Namun, suasana berbeda justru tampak di Perpustakaan dan Arsip Universitas Gadjah Mada. Di tempat yang identik dengan kesunyian dan buku, sejumlah mahasiswa memilih bertahan—bukan hanya untuk belajar, tetapi juga untuk berbagi dan menikmati takjil gratis bersama.
Program berbagi takjil gratis ini digelar oleh Perpustakaan dan Arsip UGM sepanjang bulan Ramadan, selama layanan perpustakaan masih dibuka. Setiap sore menjelang waktu berbuka, takjil disediakan bagi para pemustaka yang tetap berada di dalam gedung, sehingga mereka tidak perlu keluar untuk mencari makanan dan dapat tetap fokus pada aktivitas akademik.
Haryanta, pengelola berbagi takjil, program ini menjadi bentuk kepedulian sederhana namun berdampak nyata. “Kami ingin perpustakaan tidak hanya menjadi tempat belajar, tetapi juga ruang yang menghadirkan kenyamanan dan kebersamaan, terutama di bulan Ramadan,” ujarnya.
Takjil yang dibagikan mulai dari kurma, roti, agar-agar, aneka camilan, hingga air mineral. Meski tidak mewah, kehadirannya sangat membantu mahasiswa yang tengah menyelesaikan tugas atau riset hingga waktu berbuka tiba.
Salah satu mahasiswa Fakultas Teknologi Pertanian, Ceria, mengaku program ini sangat bermanfaat. “Kalau ini tuh pastinya sangat-sangat membantu dan bermanfaat buat teman-teman yang berpuasa. Aku juga menikmati banget,” ungkapnya.
Antusiasme pemustaka terlihat konsisten setiap hari selama Ramadan. Mahasiswa dari berbagai fakultas tampak memanfaatkan layanan ini sebagai bagian dari rutinitas ngabuburit produktif di perpustakaan. Bagi sebagian dari mereka, program ini bahkan menjadi alternatif berbuka puasa yang praktis dan hemat.
Lebih dari sekadar kegiatan berbagi, program ini juga sejalan dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya pilar ketiga tentang kehidupan sehat dan sejahtera. Penyediaan makanan sederhana yang higienis membantu mahasiswa menjaga kondisi tubuh selama berpuasa, sekaligus mendukung kesejahteraan sosial di lingkungan kampus.
Fenomena ini menunjukkan bahwa Perpustakaan dan Arsip Universitas Gadjah Mada mampu bertransformasi menjadi ruang sosial yang inklusif dengan menghadirkan akses pengetahuan sekaligus menumbuhkan nilai kebersamaan dan kepedulian. Di tengah ritme akademik yang padat, momen berbuka puasa di perpustakaan menjadi pengingat bahwa ruang belajar juga dapat berfungsi sebagai ruang berbagi.
Ke depan, keberlanjutan program ini membuka peluang bagi perpustakaan untuk memainkan peran yang lebih luas sebagai pusat literasi sekaligus simpul solidaritas yang menghidupkan semangat kebersamaan di lingkungan kampus.
Kontributor: Ahmad Amri Alfajar