Penelusuran Katalog

Data Detail Koleksi


       
       
  Id : 356
  Judul : PEMBERDAYAAN MASYARAKAT DALAM MENINGKATKAN KESEJAHTERAAN YANG BERPERSPEKTIF LINGKUNGAN: Studi Ekologi Budaya Kawasan Mangrove/Lahari Basah di Jawa Tengah dan Kalimantan Timur
  Pengarang : P. M. Laksono, dkk.
  Contributor :
  Kota Terbit : Yogyakarta
  Penerbit : Lembaga Penelitian UGM
  Tahun Terbit : 2001
  Diskripsi Fisik :
  Subyek : Pemberdayaan Masyarakat; Kesejahteran Sosial; Lingkungan Hidup; Stdu Ekologi Budaya; Kawasan Mangrove; Lahan Basah; Konservasi
  Bidang : Sosial-Humaniora
  Publikasi : Karya Ilmiah Hasil Penelitian
 
  Abstrak :
Proses sedimentasi di Segara Anakan telah menggelisahkan masyarakat yang tinggal di sekitarnya. Penyebabnya, semakin banyak tanah timbul maka semakin sempit lahari perairan tempat mereka menggantungkan hidupnya. Upaya untuk tetap bertahari menjadi nelayan dengan pembuatan tambak justru semakin memperparah keadaan. Pohon pohon mangrove telah dibabat, tambak tak menghasilkan, dan justru memunculkan wabah penyakit (malaria). Di balik semua keparahari lingkungan itu, tingkat kesejahteraan masyarakatpun tergolong rendah. Tidak mengherankan apabila diberitakan bahwa desa desa di sekitar Segara Anakan tergolong sebagai desa miskin yang berada di sekitar hutan. Berdasarkan kenyataan tersebut penelitian ini diarahkan untuk menemukan suatu pola reproduksi sosial yang tepat bagi usaha peningkatan kesejahteraan yang sekaligus untuk menjaga kelestarian ekosistem hutan mangrove. Adapun lokasi penelitian adalah Dusun Motean, Desa Ujungalang, Kecamatan Kawunganten, dan Dusun Jojok Kulon, Desa Kutawaru, Kecamatan Cilacap Tengah. Keduanya berada di Kabupaten Cilacap, Provinsi Jawa Tengah. Sebagai kajian yang menggunakan pendekatan antarbidang, yaitu bidang sosio¬ekonomi, etnobotani, organisasi sosial, geografi, mitos dan gender". Penelitian ini memanfaatkan metode kualitatif PRA (Participatory Rural Appraisal). Asumsi yang mendasari penggunaan metode ini adalah bahwa masyarakat memiliki potensi untuk mengenali diri, lingkungan, beserta dengan permasalahari yang menyertainya. Selebihnya, masyarakat juga memiliki patensi untuk mencari solusi yang tepat bagi dirinya sendiri untuk keluar dari berbagai permasalahari yang dialami dan dihadapi. Observasi, wawancara mendalam, jajak pendapat, kuesioner, FGD, merupakan bentuk pelaksanaan metode penjaringan data. Untuk itu, berbagai teknik dilaksanakan untuk mencapai metode PRA, yaitu penelusuran sejarah lokal dan analisis kecenderungan, pengamatan terhadap aktivitas harian, dan transek. Karena menggunakan metode PRA ini maka seluruh masyarakat diundang untuk turut melakukan penelitian terhadap diri sendiri dan lingkungannya. Namun demikian, ada beberapa orang yang dijadikan sebagai contact person. Target yang dicapai pada penelitian tahap pertama ini adalah terkumpulnya data atau informasi mengenai kegiatan masyarakat sehari hari, analisis data dan perumusan konsep dan strategi. Pada dua masyarakat yang memiliki kadar kedekatan dengan hutan mangrove yang berbeda, maka aktivitas sehari hari pun berbeda. Pada masyarakat. Motean yang memiliki kedekatan dengan hutan mangove, mata pencaharian pun disandarkan pada kemurahari mangrove dan sekitarnya: ikan, udang, dan kepiting yang hidup di sekitarnya. Sementara itu, pada masyarakat Jojok Kulon, yang relatif jauh dari hutan mangrove, aktivitas hariannya pun tidak terlalu berkaitan erat dengan mangrove, Mereka bertani di sawah dan ladang. Hasil penelitian lain tampak pada adanya perumusan masalah masalah yang dihadapi masyarakat dengan perspektif lokal. Masalah utama yang dihadapi masyarakat adalah pendangkalan Segara Anakan. Masalah utama ini diikuti oleh masalah masalah lain, misalnya penurunan (kualitas dan kuantitas) hasil laut dan semakin sulitnya pemenuhari sarana dan prasarana. Selain itu, juga telah ditemukan potensi potensi yang dimiliki oleh masyarakat dengan perspektif lokal. Potensi tersebut baik berupa alam (tanah, air, hutan, beserta dengan hasil-¬hasilnya) dan tenaga manusia yang terampil dalam hal kenelayanan. Karena kehidupan masyarakat disandarkan pada kemurahari alam, maka jika alam rusak, alam tidak dapat menjanjikan kesejahteraan bagi masyarakat yang tinggal di atasnya. Alam lingkungan mangrove Cilacap sudah menapaki kerusakan yang kian parah. Untuk menghadapi hal ini, tidak mungkin masyarakat hariya menanti "pengertian" dari pihak lain, Merangkul pemda, LSM, akademisi, dan perusahaan daerah merupakan strategi yang relevan. Misalnya, didirikan credit union yang di dalamnya bukan saja untuk perihal keuangan (simpan pinjam), tetapi juga sebagai waharia pemerhati lingkungan yang dilakukan oleh masyarakat sendiri dengan didampingi pihak pihak terkait yang independen. Untuk jangka pendek (dapat tercapai dalam waktu tiga hingga lima tahun), misalnya dapat dilakukan kesepakatan bersama, yaitu pelarangan penggunaan jaring apong. Sementara itu, adanya peralatan yang mendukung nelayan untuk dapat melakukan aktivitas kenelayanannya di laut lepas perlu direalisasikan. Strategi untuk konservasi dan pelestarian mangrove mernang membutuhkan waktu yang panjang. Akan tetapi, hal ini sangat penting direalisasikan.
 
  Bahasa : Indonesia
  Hak Cipta : UGM
  File Upload :
       
       
  [ Ubah Pencarian ]
[ Kembali Ke hasil pencarian ]
       


  Simple Digital Library System
Copyright @2008 UPU Perpustakaan UGM