Penelusuran Katalog

Data Detail Koleksi


       
       
  Id : 217
  Judul : PEMBERDAYAAN MASYARAKAT DALAM MENINGKATKAN KESEJAHTERAAN YANG BERPERSPEKTIF LINGKUNGAN: Studi Ekologi Budaya Kawasan HutanMangrove/Lahan Basah Di Jawa Tengah Dan Kalimantan Timur
  Pengarang : P. M. Laksono, dkk
  Contributor :
  Kota Terbit : Yogyakarta
  Penerbit : Lembaga Penelitian
  Tahun Terbit : 2002
  Diskripsi Fisik :
  Subyek : Kehutanan; Hutan Mangrove; Lahan Basah; Pemberdayaan Masyarakat; Ekologi
  Bidang : Agro
  Publikasi : Karya Ilmiah Hasil Penelitian
 
  Abstrak :
Hutan mangrove di Indonesia mengalami banyak persoalan karena terjadi perubahan-perubahan struktural akibat intervensi pembangunan. Persoalan ini sangat signifikan, mengingat fungsi hutan mangrove merupakan “ginjal” dari seluruh sistem ekologi. Mangrove di Indonesia sedang terancam kelestariannya, antara lain disebabkan oleh pembukaan lahan tambak yang makin marak dalam sepuluh tahun terakhir. Kerusakan mangrove tersebut membawa dampak ekonomi, sosial, dan budaya bagi masyarakat yang tinggal di sekitarnya. Namun demikian, pemahaman yang komprehensif mengenai besaran (magnitude) dari persoalan ini masih kurang. Pada tahun pertama, PSAP-UGM sudah melakukan penelitian dengan masalah yang sama di Segara Anakan, Cilacap, Jawa Tengah. Maka dari itu, penelitian di Kalimantan Timur diharapkan bisa digunakan untuk memperkaya temuan sebelumnya dan sekaligus sebagai bahan komparasi sehingga dapat dirumuskan pemahaman yang komprehensif mengenai persoalan struktur sosial ekonomi dan budaya dalam kaitannya dengan ekosistem hutan mangrove. Dengan demikian, dapat digambarkan model-model penanganan perubahan-perubahan struktural akibat intervensi pembangunan terhadap berbagai tipe kawasan lahan basah hutan mangrove di Indonesia. Selanjutnya, penelitian pada tahap kedua ini bertujuan untuk menemukan suatu pola reproduksi sosial yang tepat bagi usaha peningkatan kesejahteraan yang sekaligus untuk menjaga kelestarian hutan mangrove. Untuk itu, pola-pola pengelolaan sumber daya alam lokal akan dipahami dari dimensi sosial dan budayanya. Di samping itu, akan diidentifikasi pula potensi dari proses produksi sehingga output/keluarannya dapat dipakai guna merumuskan kebijakan bagi peningkatan kesejahteraan pada umumnya. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan metode PRA yang didukung pula dengan observasi dan wawancara mendalam untuk identifikasi terhadap aktivitas sehari-hari masyarakat yang bermukim di hutan mangrove. Dalam penelitian ini juga ditelusuri keterlibatan masyarakat setempat baik secara langsung maupun tidak langsung terhadap kelestarian alam. Penelitian ini mengambil lokasi di Desa Teluk Semanting, Kecamatan Pulau Derawan, Kabupaten Berau, Kalimantan Timur. Penelitian meliputi kegiatan sebagai berikut. Pertama, survey identifikasi sosial-ekonomi masyarakat asli di kawasan hutan mangrove. Kedua, identifikasi kegiatan sehari-hari masyarakat berdasarkan nilai-nilai tradisional yang dianutnya berdasarkan metode indepth interview. Ketiga, menginventarisasi kebijakan/kearifan masyarakat yang berkaitan dengan pengelolaan kawasan mangrove untuk memahami model pemanfaatan sumber daya alam dengan metode PRA. Keempat, mengidentifikasi implikasi dan model pemanfaatan sumber daya alam tersebut. Semanting merupakan desa pantai yang terletak di kawasan Teluk Semanting. Lokasi desa ini unik, karena terletak di gosong pasir yang terangkat di antara hutan bakau Semanting dan rawa burit (back swamp). Teluk Semanting merupakan kawasan hutan bakau mulai dari barat ke arah tenggara sampai memotong Sungai Ulingan dan pantai Ulingan sejauh kurang-lebih 15 km. Dalam lima tahun terakhir, penduduk Semanting yang hampir seluruhnya nelayan merasakan bahwa penghasilan mereka dari laut makin menurun. Seperti terungkap dalam diskusi kelompok, menurunnya penghasilan tersebut disebabkan beroperasinya trawl (pukat harimau). Menurunnya penghasilan rupanya telah mendorong munculnya beragam permasalahan dalam masyarakat, mulai dari kesulitan yang bersifat pribadi hingga yang bersifat umum, seperti masalah dana pendidikan anak sampai dana untuk pembangunan fasilitas umum. Menyadari bahwa tangkapan di laut kian hari kian berkurang, mereka mencoba untuk mencari sumber penghasilan lain. Membuka warung, menjadi penampung, membuka bengkel mesin, berusaha memproduksi kerupuk, menjadi tukang kayu, dan berkebun, menjadi usaha sampingan sebagian penduduk di Semanting. Sejak tahun 1999, empat keluarga mengadu nasib untuk menggeluti tambak. Seperti yang terjadi hampir di setiap kawasan mangrove di Indonesia, ekosistem yang sesungguhnya berfungsi sebagai mata rantai antara ekosistem darat dan laut ini, mulai dikonversi menjadi lahan tambak. Satu keluarga petambak di Semanting rata-rata memiliki lahan 3-5 hektar. Sayangnya, hingga saat ini tak satupun yang sudah bisa meraup keuntungan dari usaha itu. Padahal untuk satu hektar lahan, mulai dari membabat mangrove, membuat tanggul, hinga menebar benih, diperlukan dana belasan juta rupiah. Berkaca pada keberhasilan para petambak di dusun atau desa tetangga seperti Kasai dan Pegat-Batumbuk atau pada kerabatnya yang jauh seperti di Delta Mahakan dan Tarakan, keinginan penduduk Semanting untuk membuka tambak sangat tinggi, meskipun petambak Semanting sendiri belum ada yang berhasil. Ketika melakukan transek ke kawasan mangrove di sekitar Teluk Semanting, ternyata lahan mangrove yang ada telah dipasangi papan-papan nama pemilik, sudah dikapling-kapling, sehingga tinggal menunggu waktu saja berubah menjadi lahan tambak. Setiap orang minimal mematok 2 hektar. Jika ada 70 kepala keluarga di Semanting, maka 140 hektar manrove terancam hilang. Ancaman terhadap mangrove ini makin mengkhawatirkan karena penduduk Semanting ternyata memandang kawasan lahan basah itu tidak ada manfaatnya, kecuali sebagai sumber kayu bakar. Karenanya, konversi menjadi lahan tambak akan sulit dikendalikan. Namun demikian, dari sudut kepentingan pelestarian mangrove, terdapat sedikit harapan. Penduduk Semanting mempunyai kendala dalam usaha tambak mereka, terutama karena pengetahuan tentang tambak masih minim. Meraka juga mulai menyadari bahwa membuat tambak dengan membabat habis mangrove ternyata hasilnya tidak memuaskan. Dalam diskusi kelompok terungkap bagaimana cara membuat tambak yang berwawasan ekologis. Bahwa, tambak yang baik adalah yang menyisakan mangrove di tengahnya untuk tempat makan dan berpijah ikan atau udang. Cara demikian memang hasilnya tidak banyak, namun bisa berkelanjutan, dan kelestarian mangrove terjaga. Pengalaman di berbagai tempat yang mana manrovenya dibabat habis, setelah empat tahun, produktivitasnya makin menurun. Masyarakat Semanting tergolong komunitas baru yang datang ke Teluk Semanting pada pertengahan tahun 1960-an. Perjalanan sejarah masyarakat Semanting cukup penting dalam memahami keterkaitan mereka dengan lingkungannya. Waktu yang sebentar itu tampaknya belum bisa menumbuhkan ikatan emosional mereka dengan lingkungan mangrove, sehingga pemanfaatan mangrove saat ini lebih berorientasi pada kepentingan ekonomis semata (terutama untuk tambak), tanpa memperhatikan keterkaitan sistemik ekosistem mangrove sebagai mata rantai antara ekosistem darat dengan ekosistem aquatik. Oleh karena itu, pemanfaatan mangrove yang berorientasi pada pemberdayaan masyarakat dapat dimulai dengan menumbuhkan kesadaran masyarakat akan arti pentingnya mangrove melalui media-media seperti diskusi dan praktik-praktik pemanfaatan mangrove yang berwawasan lingkungan. Dalam kegiatan itu, perlu dibeberkan fakta-fakta yang bersifat riil dan sederhana mengenai dampak dari pengrusakan mangrove. Upaya pemberdayaan masyarakat dalam peningkatan kesejahteraan yang berperspektif lingkungan, khususnya masyarakat Semanting, perlu diwujudkan dalam bentuk penyadaran akan arti pentingnya mangrove bagi kehidupan mereka selalu nelayan. Selain itu, dari berbagai penelitian terhadap masyarakat dan lingkungan di hutan mangrove pada berbagai tempat itu, maka diperoleh hasil penguasaan dan pengelolaan mangrove yang berbeda-beda sesuai masyarakat tempatan. Dengan demikian, perlu diseminasi hasil penelitian dari berbagai tempat tersebut agar masyarakat yang bersangkutan memiliki wawasan ragam penguasaan dan pengelolaan hutan mangrove dari berbagai daerah dengan latar belakang sosial-kultural yang berbeda. Untuk menindaklanjuti kajian-kajian yang sudah dilakukan di berbagai tempat tersebut maka perlu adanya pembentukan model penyusunan rencana aksi, dan proyek percontohan. Ketiga hal tersebut dilakukan bersama masyarakat yang bersangkutan.
 
  Bahasa : Indonesia
  Hak Cipta : UGM
  File Upload :
       
       
  [ Ubah Pencarian ]
[ Kembali Ke hasil pencarian ]
       


  Simple Digital Library System
Copyright @2008 UPU Perpustakaan UGM